Memaafkan Di Saat Kamu Tidak Bisa Memaafkan


Memaafkan, merupakan hal yang mudah di ucapkan namun susah di lakukan. Di suatu titik dalam hidupmu, terkadang kamu menemukan kenyataan bahwa kepercayaanmu telah dikhianati. Misalnya pasangan yang kamu sayangi ternyata selingkuh dengan sahabatmu sendiri. Atau negara yang kamu percayai ternyata membiarkan kebebasan ber-Tuhan diinjak-injak ormas radikal. Mungkin bibir kamu mudah untuk mengucap, “Gapapa, sudah di maafkan kok,” namun dalam hatimu ternyata masih menyimpan dendam kesumat.

Padahal, memberi maaf dengan tulus akan mendatangkan kedamaian di dalam hati. Mari belajar memaafkan dari lubuk hati yang paling dalam.

Belajar dari anak kecil

Dalam memaafkan, kamu juga perlu belajar dari anak kecil. Usai bertengkar, mereka cepat berbaikan lagi, main bareng lagi. Bukan bermaksud untuk menyederhanakan hal yang kompleks, namun kesalahan yang diperbuat sudah menjadi masa lalu, dan tidak bisa ditarik lagi. Lagipula memaafkan bukan berarti melupakan.

Memaafkan bukan untuk mereka, tapi untuk diri sendiri

Ya, menyimpan kemarahan dalam hati berarti menyimpan bibit penyakit. Maafkanlah bukan demi mereka, tapi demi kedamaian hatimu sendiri. Dengan memaafkan, kamu akan terbebas dari beban yang ada di hatimu.

Sadari bahwa manusia memang tempatnya khilaf

Hanya yang kuat yang bisa memaafkan. Kita semua memang tempatnya berbuat salah, baik disadari atau tidak. Perbuatan yang dilandasi niat niat baik saja kadang bisa berbalik menjadi suatu kesalahan. Selama mereka memang berniat memperbaiki diri, tidak ada salahnya dong untuk maafkan?

Jangan terpaku pada masa lalu

Dengan merelakan semua yang telah terjadi, urusanmu dengan kemarahan atau kesedihan terhadap orang yang berbuat salah padamu juga akan selesai. Lebih baik, kamu tetap fokus membangun kenangan baru yang indah, hidup dengan baik di saat ini, untuk menghapus kenangan masa lalu yang buruk.

Ingat pentingnya dimaafkan bagimu

Kalau kamu belum bisa memaafkan seseorang, kamu bisa mencoba membayangkan kamu berada di posisi orang yang berbuat kesalahan. bagaimana? Tidak enak kan? Belajarlah memaafkan agar kamu juga dimaafkan dari kesalahan-kesalahan yang mungkin kamu perbuat.

Memaafkan hanya butuh sedikit energi

Menyimpan amarah dan dendam di hati ternyata jauh lebih menguras energi dibandingkan mencintai dan memaafkan, seperti halnya konflik lebih menguras tenaga dibandingkan kedamaian.

Kamu tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka perbuat

Semua kesalahan yang mereka perbuat menjadi tanggung jawab mereka. Dan mereka akan terus memendam rasa bersalah bahkan setelah mereka dimaafkan.

Tuangkan amarahmu pada sepucuk surat

Tulislah sepucuk surat yang mampu menuangkan semua amarahmu dengan jujur untuk orang yang telah menyakiti kamu, dan katakan betapa kecewa dan sedihnya kamu karena mereka. Lalu, kamu bisa menyobeknya dan bakar surat itu.

Seiring asap yang membumbung, bayangkan kalau kamu sebenarnya tidak teramat marah. Ngambang saja. Dan lepaskan kekecewaan dan amarahmu kepada mereka perlahan, seperti asap yang pelan-pelan menghilang.

Tidak perlu dipaksakan

Jika kamu belum merasa siap untuk memaafkan, tidak apa-apa. Maaf akan datang dengan sendirinya ketika kamu siap memberikannya. Tapi pahamilah, bahwa kemarahan dan kekecewaanmu pasti akan memudar seiring waktu, jadi kenapa menahan lama-lama hal yang sudah pasti akan hilang?

Apa yang terjadi padamu bisa diambil hikmahnya

Alih-alih berfokus dengan orang yang menyakiti kamu, kenapa kamu tidak fokus pada hikmah yang bisa kamu ambil dari kejadian yang kamu alami? Tuhan bukan tanpa alasan memberi cobaan bagi umatnya. Yakinilah, kamu pasti bisa lebih mudah memaafkan mereka.

Orang-orang di sekelilingmu, bahkan manusia itu sendiri, memang tidak bisa luput dari yang namanya melakukan kesalahan, baik kesalahan minor maupun fatal. Tugas sebagai manusia adalah belajar dari kesalahan, dan bersedia memaafkan orang-orang yang ingin belajar dari kesalahannya. Mari, saling memaafkan!

Memaafkan Di Saat Kamu Tidak Bisa Memaafkan