5 Cara Membedakan Pusaka Sepuh Dengan Yang Baru


Membedakan keris tua dan keris baru dalam kata lain bisa di artikan dengan kalimat penangguhan. Tangguh yang artinya sangkaan mengukur estimasi sebuah keris dari era zaman masa pembuatannya berdasarkan penelitian (berbekal ilmu dan pengalaman) untuk mengukur ciri fisik yg tertuang dalam sebilah keris. Kebiasaan seluruh yang tertuang dalam sebilah keris hal yang demikian sehingga memunculkan sabda hati, bahwa keris di buat pada zaman nya cocok dengan seluruh wujud ciri khas keris, bahan pembuatan, pembenahan pamor, tekstur rancang bangun, condong leleh, ragam besi, dan sebagainya (bukan perkiraaan sebab berdasarkan ciri wujud sebuah keris seperti majapahit lantas di tangguh majapahit, dan sebagainya. Apa lagi bertanya tangguh dengan khodam ghaib). Secara bagi orang yg memang berharap mencari keris2 tua, sebagian kalangan mungkin menganggap seluruh keris tua memiliki isoteri / energy ghaib sedangkan tak seluruh keris tua seperti itu. Keris-keris tua amat banyak sekali di gemari di kalangan masyarakat hingga ketika ini, secara khusus para kolektor pusaka, sebab cemas bila keris yg dibelinya merupakan keris baru apalagi prosesan.

Pun ada juga seorang pembeli yang kurang memahami ilmu perkerisan membeli sebuah keris dari seorang penjual, ucap saja "penjual keris A" sebab kurang memahami perkerisan mungkin bertanya ke pedagang lain atau orang yg di anggap mengerti keris ucap saja "oknum penjual B" sehingga terpengaruh hasutan dari "oknum penjual keris B" yang menjelek-jelekan keris yg baru saja di beli dari "penjual keris A" sehingga pembeli sirna rasa kepercayaan terhadap "penjual keris A". Sebab oleh "oknum penjual B" dibuktikan keris yg dibelinya (pembeli) merupakan keris baru atau prosesan. Lalu keris yang sudah di maharkan dari "penjual keris A" yang di beli sedangkan betul-betul tua jadi di anggap pembeli menjadi keris baru atau prosesan sebab hasutan oleh "oknum penjual keris B" dengan niat agar pembeli selalu membeli barang si "oknum penjual keris B" hal yang demikian. Atau malah ada niat lain untuk mencari keuntungan sendiri, keris yg sudah dianggap prosesan atau keris baru tadi di tukar dengan keris lain oleh "oknum penjual keris B" yang kualitasnya lebih jelek melainkan di bumbui dongeng sehingga si pembeli bersedia mengerjakan barter sedangkan keris yg di bisa kualitasnya di bawah keris yg di beli dari "penjual keris A". Inilah pentingnya ilmu pengetahuan serta pengalaman dan jam terbang yg tinggi untuk mendalami ilmu tosan aji sehingga kita tak mudah dihasut. Mohon maaf tanpa ada maksud menjatuhkan siapapun, melainkan ini fenomena sebenarnya yang pernah terjadi selama ini, mungkin tak di dunia perkerisan saja melainkan tak tertutup kemungkinan dalam bisang usaha lain seperti itu juga adanya.

Jadilah penjual yang bersaing secara sehat, sebab rejeki tak akan tertukar sedangkan ragam usahanya sama, melainkan rejekinya tak akan sama (tiap-tiap orang punya jalan rejeki masing-masing, TUHAN sudah mengaturnya). Di luar itu bila berharap mengukur lebih jauh poin keris-keris baru malah banyak yang harganya mahal, malah tak keok indah dengan keris-keris tua / sepuh. Pun secara khusus merupakan dari pihak penjual membeberkan secara jujur bila barang yang di jual betul-betul cocok (keris memang buatan baru atau tua sebutkan apa adanya). Keris - keris baru / kamardikan banyak juga di buru para kolektor2 malah hingga pengusaha dan pejabat yg memang sengaja memesan keris2 baru untuk beragam ragam keperluan, malah hingga ke mancanegara banyak yang sengaja memesan lantas keris-keris buatan baru sebab keindahannya. Mengaplikasikan keris baru malah bila memang digarap cocok pakem dan ritual khusus dari sang empu bisa memiliki yoni dan poin isoteri yg tak keok dengan keris tua dan harganya malah amat fantastis (puluhan hingga ratusan juta malah sebagian rekan ada yg pernah jual hingga harga milyar rupiah). Tanpa panjang lebar bagi anda yg berharap membedakan keris sepuh dan keris baru silahkan anda baca kiat berikut :

1. Memakai "Tester" : Maraknya perdagangan keris baik dari kalangan pedagang kelas atas yang memasarkan koleksinya dari harga puluhan juta hingga milyaran rupiah, hingga penjual kelas bawah yang memasarkan kerisnya kisaran ratusan ribu hingga jutaan hingga ketika ini masih banyak ikut meramaikan khasanah kebiasaan perkerisan yang sudah legal terdaftar dan di sahkan oleh UNESCO keris sebagai peninggalan kebiasaan dunia absah Indonesia Non bendawi sejak tahun 2005. Maupun banyaknya peminat baik dari rekan kolektor yg sudah lama maupun pemula yg menggandrungi keris malah sebagian kali saya kedatangan tetamu dari mancanegara yg sengaja membeli keris lantas, tak jarang yang membawa "tester". Bagi kalangan kolektor baik itu sekadar di niatkan cuma untuk pajangan, koleksi, sebagai piyandel pusaka, melestarikan kebiasaan, dan sebagainya, sehingga membuat pasar perkerisan selalu ramai dan ada saja peminatnya malah untuk sebagian kolektor dijadikan sambilan juga dengan memasarkan sebagian koleksinya yg di anggap sudah "bosan" untuk dimaharkan ke orang lain. Tapi mewujudkan lahan penghasilan baru untuk menambah lapangan kerja bagi orang yg berharap mencari penghasilan, malah bagi sebagian orang yg sudah menikmati walhasil hingga mewujudkan bisnis perkerisan sebagai mata pencaharian utama. Ramainya pasar perkerisan ini bagi sebagian rekan kolektor mewujudkan seorang "tester" sebagai ujung tombak ke absahan sebuah keris yg akan di maharkan nantinya.

Fungsi utama seorang "tester" merupakan orang yg di percaya sebagai pendamping seorang pembeli (kolektor) keris untuk meneliti seluruh wujud estetika, poin eksoteri, wujud fisik, dan seluruh karakter yg tertuang dalam sebilah keris dan mesti cocok dengan apa yg di harapkan oleh kolektor atau pembeli. Maupun dalam hal ini ada juga sebagian "oknum" tester yg sebelumnya sudah berprofesi sama dengan penjual dengan niat berharap mencari poin keuntungan lebih (meminta bagian dari penjual umumnya bisa 5 hingga 10%, atau malah lebih), agar keris dari pihak penjual bisa "deal" legal terjual oleh pembeli (kolektor). Meski di sini ada sandiwara antara "tester" dengan penjualnya yang pastinya hal ini dilaksanakan tanpa sepengetahuan dari pihak pembeli. Pun dari pihak pembeli (kolektor) si "tester" sudah mendapatkan upah komisi untuk meneliti keris yg akan dimaharkan. Mengaplikasikan ada juga sebagian oknum "tester" yang sudah berprofesi sama dengan "oknum" pihak dalam keraton untuk membuatkan surat kekancingan sedangkan kerisnya berasal dari luar keraton. Lazimnya tak heran di kalangan para kolektor banyak menaruh keris tembakan keris keraton yg di beli, sedangkan kerisnya bukan absah bikinan dalam keraton malah poin harganya satu keris bisa kisaran ratusan juta hingga milyaran rupiah (sebuah harga yg amat fantastis).

Meski keris-keris keraton bertangguh nom-noman, selain dari wujud fisiknya yang masih utuh dan poin estetikanya yang baik juga dari segi isoteri keris-keris keraton umum di buru sebab di anggap memiliki poin yoni yg baik sebab di garap lantas oleh empu keraton dengan disiplin ilmu pembuatan keris serta pakem dan ritual khusus yang ketat. Apalagi umumnya keris-keris keraton dipakai untuk kepentingan kerajaan dan dipakai oleh raja mapun keluarga atau pejabat keraton pastinya tak sembarangan dalam pembuatannya. Pun ada juga oknum "tester" yg bersedia menyediakan keris keraton khusus pesanan bagi siapa saja yang menginginkan, bila tak tersedia karenanya pembeli di suruh menuggu sebagian bulan hingga barang yg di pesan bisa di temukan. Pun dalam kurun waktu menunggu oknum "tester" hal yang demikian sedang memesan ke seorang empu atau pembuat keris untuk membuatkan keris cocok orderannya, seluruh di buat sedetail mungkin malah dari wujud dapur serta ricikan sekecil apapun di buat menyamakan wujud absah pusaka keraton yg diharapkan si pembeli. Coba bayangkan bila satu dapur keris keraton bergelar "kanjeng kyahi" bisa dimiliki banyak orang, sedangkan awalnya sang empu keraton cuma membuat satu keris saja untuk keperluan keraton. Meski keris-keris keraton diburu oleh para kolektor yang nantinya akan di gunakan sebagai koleksi dan kebanggan tersendiri memiliki keris absah empu keraton beserta aktanya selain itu ada juga yg di gunakan untuk piyandel atau pusaka pegangan pribadi dan harganya juga cukup menguras kantong. Maupun tak berarti seluruh "tester" memiliki prilaku seperti itu, sebab masih cukup banyak juga "tester" yg berprilaku jujur. Lazimnya dianjurkan carilah seorang "tester" yg jujur dan sudah amat anda kenal, dan yg secara khusus orang hal yang demikian bisa diandalkan secara khusus dalam ilmu perkerisan sudah cukup mumpuni sehingga anda tak kecewa nantinya. Pun orang yang sudah pakar dan pakar pusaka saja sekali-sekali masih salah dan kecewa dengan keris yg di maharkan sebab terbukti penangguhannya tak cocok, dan sebagainya. MANUSIA TEMPATNYA SALAH DAN KHILAF DAN TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA.

2. Penangguhan lewat sertifikasi "surat keterangan" keris : Dahulu ini sedang trend sertifikasi untuk keris tak keok dengan sertifikasi batu akik. cuma saja untuk klasifikasi batu akik orang lebih mencari ke arah originalitas batu hal yang demikian agar tak menerima batu imitasi / sintetis. Beda halnya dengan sertifikasi dalam perkerisan umumnya orang lebih cendrung mengarah terhadap ilmu penangguhan (estimasi masa pembuatanya), melainkan ada juga sebagian rekan kolektor yg membuat akta keris untuk tujuan yg memang berharap dipergunakan cuma sebagai koleksi agar terkesan lebih exclusive dan antik serta banyak alasan lain. Di sini saya berbicara sertifikasi untuk mencari penangguhan, sebab disamping sedikit sekali lembaga yg berkompeten di dalam seni perkerisan. Sehingga membuat kalangan kolektor agak kesusahan menerima lembaga yang bisa membuat akta keris yg seluruh isi dan keterangan nya betul-betul cermat (bukan sekadar sangkaan sendiri saja). Almarhum ada pakar pusaka dan membuat akta keris Kecuali Pak Bambang Harsrinuksmo sekaligus pengarang buku Ensiklopedi Keris cuma sekarang sudah meninggal.

Diluar itu sertifikasi keris juga baru-baru ini digandrungi sebagian kolekdol atau penjual keris untuk membeberkan spesifikasi keris yg di jualnya, mungkin di anggap pihak jasa pembuat surat keterangan sebagai pihak yg netral sehingga tak ada yg saling di bohongi. Sebab itu bagi penjual juga tak perlu repot menangguh maupun di anggap si penjual asal tangguh saja sebab sudah ada aktanya "red surat keterangan". Kalaupun nantinya bila secara fisik keris tak cocok estimasinya karenanya sudah ada akta keris yg ber tanggung jawab (amat simple) istilahnya berharap cari aman. Dalam hal ini penangguhan yg mendiskusikan sebuah masalah yg cukup kompleks, perbedaan sistem penangguhan, ciri fisik, bahan, dan sebagainya. Pun beda orang beda anggapan (masalah khilafiyah), sehingga sebagian orang menganggap akta bukanlah hal penting, dan umumnya pembeli yang membuatkan akta keris dengan niat untuk mengukur penangguhannya merupakan orang yg kurang mengerti mengenai ilmu perkerisan.

Bagi peminat keris yg sudah mengerti hal yg paling utama bukan semata-mata sebab sebuah akta keris saja (beda dengan batu akik), sebab dalam mengukur sebuah keris (pusaka) pada dasarnya merupakan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman jam terbang yang tinggi dalam ilmu tosan aji yg sudah di miliki oleh seseorang peminat (kolektor) keris untuk mengamati karakter fisik poin eksoteri serta estetika sebuah keris. Sebab sedangkan ada akta keris sekalipun kadang masih ada juga yang tak cocok dalam penangguhan, artinya akta keris juga tak menjamin 100% kecermatan dalam penangguhan. Kata akta ini yg kadang di salah artikan oleh banyak kalangan sedangkan sebenarnya cuma "surat keterangan saja" bukan akta seperti yg banyak dipahami banyak orang. Mengaplikasikan pernah pengalaman saya sebagian kali surat keterangan hal yang demikian yg sudah saya buat di sebuah musium keris daerah Jakarta Timur terbukti di tolak oleh sebagian orang kolektor sebab isinya "di anggap" tak cocok dengan estimasi kerisnya secara fisik, ragam dapur, penamaan pamor, estimasi penangguhan hingga ragam aksessories keris yg dipakai tak cocok dengan fisiknya.

Kecuali dalam penangguhan keris secara fisik yang sebelum di buatkan surat keterangan sudah saya identifikasi di tambah lagi dengan ber konsultasi juga dengan sebagian rekan yg sudah cukup mengerti mengenai ilmu perkerisan menangguh, seperti keris bertangguh estimasi abad 17, melainkan dalam surat keterangan tertulis tangguh sepuh abad 12 masehi, keris tangguh madya era abad 15 - 16 masehi dalam surat keterangan tertulis tangguh kamardikan abad 20 (sedangkan keris itu merupakan keris warisan buyut saya dari 3 generasi sejak sebelum masa kemerdekaan dan umum dibawa sebagai pegangan ketika menghadapi penjajah) bagaimana bisa baru di buat abad 20 Masehi ? Keris tangguh Mataram abad 16 di surat keterangan tertulis tangguh Madura abad 18, keris tangguh Bali abad 17 di surat keterangan tertulis tangguh Madura abad 20 (mungkin disamakan dengan bilah keris Jawa yang lebih kecil dan luwes, sedangkan keris yg saya bawa memang absah Bali dengan ciri khasnya dengan bilah yg lebih panjang dan besar serta terlihat kaku di tambah bahan pamornya yg terkesan mentah dan mengkilap jadi di anggap keris Madura abad 20, sedangkan pesinya saja sudah kecil absah sebab terpengaruh umur bukan sebab prosesan), belum aksessorisnya handle Bali disebut handle Madura (sedangkan secara fisik handle ukiran amat terang buatan khas Bali tulen), penamaan pamor yang tak cocok pakem, penamaan dapur keris yg tak cocok pakem : seperti keris dapur Ganesha di akta tertulis dapur "liman siluman" (baru dengar saya), keris dapur tumenggung tak ada sogokannya di serifikat tertulis dapur sinom wora wari ada sogokannya, keris jangkung segoro winotan sogokan rangkep hingga ujung wilah di akta tertulis dapur jangkung pacar. Belum ragam kayu yg dipakai sebagai warangka seperti kayu asem di akta ditulis kayu timoho pelet, kayu cendana wangi disebut kayu sawo, dan sebagainya. Mengaplikasikan yang lucunya lagi saya pernah membuat 2 lembar surat keterangan dengan 1 buah keris yang sama malah acsessories sandangan nya tak ada satupun yg saya rubah, terbukti tangguh dan nama dapurnya bisa berbeda sedangkan jarak antara pembuatan surat pertama dan ke dua cuma berjeda 1 bulan. Sebab penilaian fisik yang sudah terang saja masih salah, bagaimana dengan ilmu penangguhannya (amat perlu dipertanyakan). Pun walhasil seluruh akta hal yang demikian tak terpakai sama sekali, sedangkan saya sudah menggelontorkan uang yang lumayan besar untuk tarif pembuatan seluruh akta hal yang demikian. Memang dalam hal ini amat dibutuhkan orang-orang yg berkompeten di bidang pembuatan akta perkerisan ini, apalagi bila pembuatan akta sudah di komersialkan karenanya seharus nya ada peneliti dari orang-orang yg betul-betul sudah cukup pakar di bidang pembuatan akta keris. Lebih baik bila dalam pembuatan sertifikasi keris disertai peralatan laboratorium yg mendorong ilmu metalurgi serta kandungan serat karbon, dan bahan lain yg mendorong dan di tulis dalam akta keris. Sebab itu di dukung dengan teknik lain yg menguatkan seluruh deskripsi dalam pembuatan akta keris secara khusus dalam hal penangguhan yg terdapat dalam sebilah keris sebagai bukti bahwa keris hal yang demikian memang sudah di teliti dengan betul-betul cermat.

Bicara versi lain akta - akta keris dari keraton (baca kekancingan) malah dari sebagian pengalaman rekan kolektor yg mengkoleksi keris-keris yg di anggap buatan keraton (HB Jogja / PB Solo), banyak juga di antara koleksi mereka terbukti merupakan keris-keris tembakan yang lahir di luar keraton secara khusus buatan Madura, melainkan punya surat kekancingan yg dikeluarkan lantas dari keraton. Entah itu permainan atau bukan, Wallahu A`lam. Penangguhan bersifat kompleks yg butuh ilmu pengetahuan dan jam terbang yg tinggi untuk mengetahui betul seluk beluk perkerisan. Dalam hali ini cuma saya anggap sebagai pengalaman pribadi dan tak ada maksud dan tujuan untuk menjatuhkan siapapun.

3. Penangguhan lewat penelitian dari sebilah pusaka secara eksoteris : Kecuali ini merupakan landasan utama dari ilmu penangguhan, dan amat di sarankan bagi seluruh pecinta tosan aji agar bisa belajar dan betul-betul menguasainya. Untuk penangguhan selanjutnya yang bisa lakukan merupakan cocok dasar dari hasil penelitian fisik keris, bahan material, kualitas besi / baja, ilmu metalurgi, pembenahan dan bahan pamor, rancang bangun, teknik tempa, dan sebagainya. Agar berkonsultasi juga dengan sebagian pakar maupun rekan perkerisan yg sudah memahami ilmu keris, tak jarang mengendalikan keris-keris tua maupun keris buatan baru serta mengamati tiap-tiap detilnya (bahan, wujud, dan sebagainya). Sebab dalam penangguhan seluruh berdasarkan penelitian dan bukan berdasarkan penilaian subjektif pribadi serta sangkaan saja. Banyaknya pedagang maupun kolekdol yg sekadar menangguh cuma berdasarkan segi sangkaan saja menyebabkan tak sedikit pembeli yg kurang teliti dan minim pengetahuan mengenai tosan aji pada ketika sebelum memaharkan menjadi kecewa dengan barang yg di beli, secara khusus dalam pembelian online. Sebab pembeli tak datang lantas dan cuma mengamati barang yg akan di beli cuma lewat foto saja. Lazimnya dengan berbekal ilmu ini anda bisa semaksimal mungkin untuk menangguh cocok dengan fisik pusaka yang di maharkan sedangkan cuma lewat media foto saja, atau paling tak anda bisa mengukur penangguhan mendekati masa pembuatannya. Untuk pembelian secara online (pembeli cuma mengamati fisik barang lewat foto), mintalah deskripsi foto barang sedetail mungkin dari wilah hingga bagian pesi. Mungkin untuk sebagaian pedagang di anggap sebagai pembeli yang rewel (teliti sebelum membeli, jangan sebaliknya), melainkan percayalah bila penjual yang baik, karenanya seluruh akan dikasih sedetail mungkin baik segi kelebihan dan kekurangan barang yang akan di jualnya (kata pepatah pembeli merupakan raja). Bagi penjual usahakan jangan mengedit foto, barang yang akan di jual, foto apa adanya dengan kamera yang ber pixel baik. Di samping foto barang dengan penerangan yg baik dan back ground atau alas kain untuk barang yg akan di foto dengan kain yg berwarna cerah (putih atau merah, dan sebagainya). Harap dilihat baik-baik mendetail foto barang dan deskripsi iklan yg di pasang sebelum membeli, bila dibutuhkan simpanlah foto iklan barang sebelum mengerjakan transaksi. Mintalah foto terbaru dari penjual bila anda masih ragu, usahakan dengan penerangan yg baik sehingga barang yg di tawarkan betul2 terlihat terang detilnya. Usahakan penjual membeberkan seluruh mendetail baik segi kelebihan serta kekurangan barang yg akan di jual cocok dengan fisiknya. Jangan hingga ada anggapan negatif terhadap penjual cuma sebab kesalah pahaman persepsi penangguhan maupun hal lain setelah keris sudah dimaharkan.

Dalam hal ini pembeli mesti sudah mengerti dengan barang yg akan di beli. Maupun amat dianjurkan bila memungkinkan sebaiknya anda datang lantas untuk mengamati keris yang di tawarkan, selain menghindari pembohongan online anda juga bisa lebih puas sebab mengamati lantas keris yg berharap anda beli. Sebab itu secara teori ada sebagian rujukan lain dalam meneliti sebuah keris Sepuh (Tua), diantaranya merupakan :

A. SLOROK BAJA, meneliti ada tidaknya slorok baja, untuk keris tangguh setelah majapahit slorok baja terlihat cukup terang slorok ini bisa berwarna unggu, hijau atau abu-abu berada diseluruh tepi bilah dan slorok ini sebagai tajamnya besi. Untuk keris baru yang bermutu dan dijadikan dengan tehnik tempa yang baik akan keluar slorok baja ini. Tapi lebih terang bisa diwarangi dahulu.

B. SEPUHAN, meneliti ada tidaknya sepuhan pada bilah keris, keris-keris tua umumnya terdapat sepuhan untuk menguatkan bilah keris hal yang demikian. pada sebuah keris yang dilaksanakan penyepuhan akan terlihat sekali perbedaan warna pada zona bilah yg dilaksanakan penyepuhan dan yang tak dilaksanakan penyepuhan dan umumnya sepuh ini dilaksanakan pada bagian bilah mulai dari ujung bilah dengan panjang 1/4, 1/2. atau sepanjang ¾ bilah , jarang sekali ada keris yang disepuh seluruhnya.

C. LAPISAN BESI, BAJA DAN PAMOR , meneliti ada tidaknya lapisan baja, besi dan pamor, keris sepuh atau tua pasti dijadikan dengan tehnik tempa yang benar masing-masing unsur (besi, baja dan Pamor) dijadikan berlapis-lapis. Jadi sebuah keris tua besi mesti berlapis, pamor mesti berlapis dan baja juga mesti berlapis.

D. GRADASI WARNA, dari ketiga rujukan diatas akan bisa didapatkan adanya gradasi warna kemudian bandingkan keris yg absah dari jamannya dengan keris yg dicurigai baru. Secara memiliki sebuah keris tua / sepuh dan benar-benar absah tua bisa membandingi bilah dan gradasi warna pada keris hal yang demikian melainkan dengan catatan kedua keris di warangi dengan kualitas yang sama sebab ada ragam warangan tua, muda, dan setengah setengah tua, hal ini juga akan berdampak sekali pada gradasi warna yang terjadi pada bilah keris. Akal Sebab ganja, gandik, blumbangan dan ricikan yang lain apa cocok atau apa ada yang tak cocok. Perlu diingat Para pembuat keris aspal (keris baru yang dituakan) juga jago, mereka membuat keris yang benar-benar mirip dengan aslinya, mendetail sekecil apapun akan mereka buat untuk menyamai keris yang Tua dan absah.

E. TAYUH, Secara keempat sistem diatas masih ragu perlu dilaksanakan sistem yang sudah diwariskan leluhur kita merupakan dengan sistem ditayuh. sistem ini bisa dilaksanakan dengan beragam ragam sistem, ada yang mengukur daya keris hal yang demikian pada ketika dikuasai, ada yang perlu dengan meletakkan keris hal yang demikian dibawah bantal pada ketika tidur.

F. PROSESAN BAHAN KIMIA : Anda bisa sedikit membandingi tekstur korosi bilah keris yg terjadi lewat proses pemaksaan memakai bahan kimia yang umumnya permukaan bilah akan terlihat rusak serta pamornya akan terlihat redup atau samar2 (seperti gosong) melainkan kadang bila pamor dari bahan nikel masih terlihat sedikit mengkilap dari bahan nikelnya melainkan tak terlihat slorok pada bilah keris kadang ada bekas kikir di bagian wilah untuk menghaluskan bilah sebab keris yang rusak sebab terkena bahan kimia agar terlihat lebih cocok dilihat (misal meratakan luk, sogokan atau bagian lain pada bilah). Pun lebih utama merupakan anda mengamati lantas pelaksanaannya umumnya untuk pengrajin di daerah yang mengerjakan praktek hal yang demikian. Melihat niat awalnya pembuatan keris hal yang demikian didasari agar keris terlihat lebih sepuh bagi penjual yg jujur tentu mereka akan berterus terang apa adanya. Maupun bagi pedagang jahil mereka justru mengambil kans hal yang demikian untuk memperdaya pembeli, sedangkan suatu ketika pembeli pasti tahu dan jera beli lagi dengan penjual yg tak jujur. Pun lebih kasihan bila penjual pemula yg rata2 tak mengerti bila kerisnya merupakan keris prosesan bahan kimia. Untuk itu belajar secara lantas agar lebih bisa membedakan jadi bukan berdasarkan sangkaan saja atau kata si anu... si anu tak bisa dipertanggung jawabkan.

4. Banyak membaca buku-buku perihal dunia perkerisan: Ilmu Pengetahuan merupakan ilmu yang amat berharga bagi kehidupan, secara khusus bagi anda yang sudah kadung menyukai tosan aji. Menyelami ranah kebiasaan yang satu ini seakan tak ada habisnya, poin estetika dan sejarah yang tak lekang dimakan zaman. Buku-buku yang membahas perihal kebiasaan perkerisan nusantara bagi penikmat seni tosan aji selalu jadi bahan perburuan. Secara bagi pemula yang baru menggeluti dunia perkerisan Buku Keris Jawa Antara Mistik Kebiasaan karya pak Haryono Haryoguritno dan Buku ensiklopedi keris Karangan Alm. Bambang Harsrinuksmo bisa menjadi bahan permulaan untuk dasar pengenalan kebiasaan tosan aji. Sebab ke dua buku ini bak dua sejoli yang tak bisa di pisahkan, satu sama lain saling mengisi dan melengkapi dan pengobat dahaga ilmu bagi penikmat tosan aji secara khusus. Sayangnya buku-buku ini sekarang sudah amat langka di pasaran, selain memang sudah tak di edarkan lagi dari penerbitnya, kalaupun ada harganya memang cukup mahal kisaran di atas 1,5 juta. Maupun di luar itu harga yang ditawarkan bukanlah suatu masalah bagi penikmat tosan aji, sebab cocok dengan bobot isi dari buku-buku hal yang demikian. Dalam buku hal yang demikian dibahas seluruh ragam mendetail pusaka baik dari segi pembuatannya, ragam dapur keris, ragam kinatah pada keris, estimasi penangguhan sebuah pusaka, dan sebagainya. Maupun selain itu masih banyak rujukan buku-buku perihal dunia perkerisan lainnya yang bisa anda beli sebagai komplementer.

5. Mengetahui proses pembuatan keris: Tidak ada salahnya sekali-sekali anda menyempatkan waktu lengang anda untuk mengamati lantas sistem pembuatan keris, sistem membuat pamor-pamor keris, mulai dari pamor mlumah hingga pamor miring. Bagaimana mengamati tingkat kesusahan dalam proses pembuatan keris, bahan apa saja yg di perlukan, dari bahan dasar menjadi kodokan hingga betul-betul menjadi sebilah keris yang memiliki poin seni yang tinggi. Jangan lupa mengamati bagaimana sistem memproses keris baru sehingga terlihat seperti keris tua, sehingga anda nantinya mengerti keris mana yang betul-betul tua dan keris mana yang prosesan. Bukan dari katanya, atau cuma sangkaan saja. Sehingga bisa mewujudkan tambahan wawasan anda dalam menggeluti dunia tosan aji, secara khusus bagi para pedagang dan kolektor keris.

Nah silahkan bagi anda yg berharap memaharkan sebuah keris pusaka bisa mencontoh sebagian kiat yg saya berikan, berdasarkan anda baik yg mana kembalinya terhadap diri anda sendiri. Tujuan saya di sini cuma berbagi pengalaman saja, bukan bermaksud menggurui atau menjatuhkan siapapun. Pun secara khusus sebelum membeli sebuah pusaka niatkan untuk melestarikan kebiasaan, carilah dari segi manfaatnya memiliki keris untuk apa tujuannya, carilah keris yg cocok dengan bathin anda (umumnya akan ada sir di hati pada ketika anda mengamati sebuah keris, rasa bersuka cita, adem, ketentraman, kharisma, dan sebagainya), juga baik dari segi fisik maupun harganya (syukur bila bisa keris baik dan relatif murah namanya rejeki). Secara anda sudah bersuka cita dengan pusaka yg di maharkan artinya anda ada rasa cocok dengan pusaka hal yang demikian semoga menjadi berkhasiat dan berkah untuk anda. Bagi pedagang, jadilah pedagang Tosan Aji yang berharap belajar mendalami dan memahami poin seni eksoteri dan isoteri Tosan Aji yang sebenar-benarnya. Sebab pedagang Tosan Aji merupakan pelestari . Bagi pembeli janganlah cari keris yang cuma sekadar baik, melainkan carilah keris yang benar-benar cocok.

5 Cara Membedakan Pusaka Sepuh Dengan Yang Baru