Sejarah Pemikiran Islam Al-Farabi (Filsafat & Teorinya)


Filsafat Yunani banyak memberikan ide kepada umat Islam untuk mempelajari dan menggali lebih jauh berkenaan asumsi dan juga pengetahuan pengetahuannya. Terlebih lagi, terhadap perkembangannya, Islam memiliki banyak persoalan-persoalan yang butuh asumsi untuk sanggup menyelesaikannya. Hal ini pasti butuh peran akal yang optimal supaya muncullah filsafat Islam. Filsafat Islam sendiri banyak melahirkan para filsuf muslim, salah satunya adalah Al-Farabi.

Ia banyak menguasai berbagai disiplin pengetahuan pengetahuan dan menguasai lebih {dari satu} bahasa. Ia pilih hidup sederhana, dan dikenal sebagai khusus yang zuhud dan juga senang berbagi bersama dengan sesama. Al-Farabi banyak melahirkan karya-karya, lebih-lebih untuk sanggup memperluas pemikirannya dilaksanakan penerjemahan terhadap kitab-kitabnya ke di dalam bhs Latin, Inggris, Almania, bhs Arab, dan Perancis.

Biografi Al-Farabi


Al-Farabi merupakan julukan bagi Abu Nasr Ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh. Al-Farabi dilahirkan di sebuah desa bernama Wasij yang merupakan distrik berasal dari kota Farab. Saat ini kota Farab dikenal bersama dengan nama kota Atrar/Transoxiana th. 257 H/870 M. Al-Farabi oleh orang-orang latin abad sedang dijuluki bersama dengan Abu Nashr (Abunaser), sedang julukan Al-Farabi diambil alih berasal dari nama kota Farab, area ia dilahirkan. Ayahnya adalah seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki.

Al-Farabi


Sejak dini, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang senang studi dan juga rajin dan juga ia memiliki kekuatan untuk menguasai berbagai bahasa, antara lain bhs Iran, Turkestan, dan Kurdistan. Bahkan menurut Munawir Sjadzali, Al-Farabi sanggup bicara di dalam tujuh puluh macam bahasa; namun yang ia kuasai bersama dengan aktif, cuma empat bahasa: Arab, Persia, Turki, dan Kurdi.

Di usia muda, Al-Farabi hijrah ke Baghdad yang terhadap waktu itu merupakan pusat pengetahuan pengetahuan. Di Baghdad ia studi kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah bhs Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus (seorang kristen) untuk studi logika dan filsafat Selanjutnya ia hijrah ke Harran yang merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil dan studi kepada Yuhanna ibnu Jailan. Kemudian, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat.

Al-Farabi mendapat predikat Guru Kedua, gara-gara ialah orang pertama yang memasukkan pengetahuan logika ke di dalam kebudayaan Arab. Selanjutnya ia ganti ke Damaskus, di sana ia berkenalan bersama dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Alleppo. Akhirnya Al-Farabi diberi kedudukan menjadi ulama istana. Ia hidup simple dan mengguinakan gajinya untuk beramal dan dibagikan kepada fakir miskin di Alleppo dan Damaskus. Al-Farabi wafat terhadap usia 80 th. di Aleppo th. 950 M.

Karya-karya Al-Farabi


Al-Farabi merupakan filsuf Islam terbesar, ia memiliki keahlian di berbagai bidang, di antaranya adalah pengetahuan bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, pengetahuan alam, ketuhanan, fiqh, dan manthiq. Tetapi, sayangnya tidak banyak karya berasal dari Al-Farabi yang diketahui, gara-gara karyanya berupa risalah yang merupakan karangan pendek dan tidak banyak yang berupa buku besar yang pembahasannya mendalam, biasanya karyanya udah hilang. Adapun judul berasal dari karya-karyanya sebagai berikut:

  1. Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu;
  2. Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah;
  3. Syarah Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani;
  4. At-Ta’liqat;
  5. Risalah fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi al-Falsafah;
  6. Kitab Tahshil As-Sa’adah;
  7. Risalah fi Itsbat Al-Mufaraqah;
  8. ‘Uyun Al-Masa‘il;
  9. Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah;
  10. Ihsa Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradita;
  11. Maqalat fi Ma’ani Al-Aql;
  12. Fushul Al-Hukm;
  13. Risalat Al-Aql;
  14. As-Siyasah Al-Madaniyah;
  15. Al-Masa’il Al-Falsafiyah wa Al-Ajwibah Anha.

Ciri khas berasal dari karya-karya Al-Farabi adalah berikan ulasan dan juga penjelasan terhadap karya berasal dari Aristoteles, Iskandar Al Fraudismy dan Plotinus. Karya nyata berasal dari Al-Farabi sebagai berikut:

  1. Al jami’u Baina Ra’yai Al Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan/penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles);
  2. Tahsilu as Sa’adah (mencari kebahagiaan);
  3. As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintah);
  4. Fususu Al Taram (hakikat kebenaran);
  5. Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (pemikiran-pemikiran utama pemerintah);
  6. As Syisyah (ilmu politik);
  7. Ihsho’u Al Ulum (kumpulan berbagai ilmu), dll.

Pemikiran Al-Farabi


Hasil Pemikiran Al-Farabi
Filsafat Al-Farabi memiliki corak dan tujuan yang tidak serupa berasal dari filsafat lainnya gara-gara ia mengambil alih ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali di dalam bentuk yang cocok bersama dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya bersama dengan sistematis dan selaras. Namun, lebih dari satu filsafat Al-Farabi ini dianggap salah supaya tidak diterima oleh pengetahuan pengetahuan modern. Akan tetapi, Al-Farabi selamanya memiliki guna yang penting dan pengaruh yang besar di bidang asumsi masa-masa sesudahnya. Berikut ini adalah lebih {dari satu} asumsi filsafat Al-Farabi:

Filsafat


Al-Farabi mengartikan filsafat sebagai Al Ilmu bilmaujudaat bima Hiya Al Maujudaat yang artinya adalah suatu pengetahuan yang menyelidiki hakikat memang berasal dari segala yang ada ini. Ia berhasil tempatkan dasar-dasar filsafat ke di dalam Islam. ia juga menyatakan bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Plato dan Aristoteles. Al-Farabi mempunyai basic berfilsafat bersama dengan memperdalam pengetahuan bersama dengan segala yang maujud hingga mempunyai pengenalan Allah sebagai penciptanya.

Falsafat Emanasi/Pancaran


Al-Farabi mencoba menyatakan bagaimana yang banyak sanggup timbul berasal dari Yang Satu bersama dengan filsafat emanasi ini. Tuhan berupa Maha-Satu, tidak berubah, jauh berasal dari materi, jauh berasal dari makna banyak, Maha-Sempurna dan tidak perlu terhadap apapun. Menurut al-Farabi, alam ini berjalan gara-gara emanasi Tuhan. Ia berpendapat bahwa berasal dari Yang Esa-lah memancar yang lain, berkat kebaikan dan pengetahuan sendiri-Nya. Tuhan sebagai akal, berfikir berkenaan diri-Nya, dan berasal dari asumsi ini, menjadi timbul bentuk yang lain. Tuhan merupakan bentuk pertama, dan bersama dengan asumsi itu timbul bentuk kedua yang juga mempunyai substansi. Ia disebut akal pertama yang tidak berupa materi. Wujud kedua ini berpikir berkenaan bentuk yang pertama dan berasal dari asumsi ini timbullah bentuk ketiga. Wujud ketiga membayangkan dirinya sendiri disebut akal kedua.

Wujud kedua atau akal pertama itu juga berpikir berkenaan dirinya dan berasal dari situ timbullah Langit Pertama.

Wujud III/akal kedua membayangkan Tuhan supaya timbul Wujud ke IV, dan membayangkan dirinya sendiri supaya timbul Bintang-bintang.

Wujud IV/akal Ketiga membayangkan Tuhan supaya timbul Wujud V, dan membayangkan diri sendiri supaya timbul Saturnus.

Wujud V/Akal Keempat membayangkan Tuhan supaya timbul Wjud VI, dan membayangkan dirinya supaya timbul Jupiter.

Wujud VI/Akal Kelima—— Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam.

——- dirinya= Mars.

Wujud VII/Akal Keenam—— Tuhan= Wujud VIII/Akal Ketujuh.

——- dirinya= Matahari.

Wujud VIII/Akal Ketujuh—— Tuhan= Wujud IX/Akal Kedelapan.

——- dirinya= Venus.

Wujud IX/Akal Kedelapan——Tuhan= Wujud X/Akal Kesembilan.

——- dirinya= Merkurius.

Wujud X/Akal Kesembilan—— Tuhan= Wujud XI/ Akal Kesepuluh.

——– dirinya= Bulan.

Pada asumsi Wujud XI/Akal Kesepuluh, berhentilah munculnya akal-akal. Tetapi berasal dari Akal Kesepuluh muncullah bumi dan juga roh-roh dan materi pertama yang menjadi basic berasal dari keempat unsur yaitu api, udara, air, dan tanah.

Wujud-wujud dan akal-akal ini merupakan susunan yang hierarkis. Wujud pertama di dalam hierarki yaitu yang paling tinggi, kemudian ruh-ruh lingkungan dan lingkungan itu sendiri. Susunan paling akhir yaitu bumi dan dunia materi yang berada terhadap urutan keempat. Menurut orang Yunani Kuno bahwa segala yang bercorak langit adalah suci dan segala yang bercorak bumi tidak suci. Ajaran Islam menerangkan bahwa langit merupakan sumber wahyu dan tujuan akhir mi’raj. Di sini Al-Farabi menyesuaikan antara ajaran agama dan filsafat. Dalam perihal ini al-Farabi mengambil alih teori astronomi berasal dari Yunani, yaitu Ptolomeus yang berpendapat bahwa kosmos terdiri berasal dari Sembilan lingkungan yang kesemuanya bergerak memutari bumi.

Falsafat Kenabian


Akal yang sepuluh itu sanggup disamakan bersama dengan para malaikat di dalam ajaran Islam. Para filosof sanggup mengetahui hakekat-hakekat gara-gara sanggup berkomunikasi bersama dengan akal Kesepuluh. Nabi atau Rasul pun sanggup menerima wahyu gara-gara mempunyai kesanggupan untuk berkomunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh. Akan namun kedudukan Nabi atau Rasul lebih tinggi berasal dari para filosof.

Para filosof sanggup berkomunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh gara-gara usahanya sendiri yaitu bersama dengan latihan dan kontemplasi, sedang Nabi atau Rasul adalah orang pilihan, supaya mereka sanggup berkomunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh bukan atas bisnis sendiri namun atas perlindungan berasal dari Tuhan. Para filosof mengadakan komunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh lewat akal, yaitu akal mustafad, sedang Nabi atau Rasul bukan bersama dengan akal, namun bersama dengan energi pengetahuan yang disebut imajinasi. Tingkat imajinasi yang diberikan kepada Nabi atau Rasul terlampau kuat supaya sanggup terjalin bersama dengan Akal Kesepuluh tanpa latihan yang kudu dijalani para filosof. Falsafat ini dimajukan Al-Farabi untuk menentang aliran yang tidak percaya kepada Nabi/Rasul (wahyu) seperti yang dibawa oleh al-Razi dan lain-lain di zaman itu. Teori berkenaan kenabian ini sanggup dianggap sebagai bisnis al-Farabi di dalam merujukkan agama bersama dengan filsafat.

Teori Politik


Falsafat Kenabian terjalin erat bersama dengan teori politik Al-Farabi. Ia udah menulis lebih {dari satu} risalah berkenaan politik, yang paling terkenal adalah Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Kota Model). Di di dalam risalah selanjutnya ia melukiskan Kota sebagai suatu total berasal dari bagian-bagian yang terpadu, mirip bersama dengan organisme tubuh; jika ada anggota yang sakit, maka yang lain dapat bereaksi dan menjaganya.

Dalam kota, masing-masing anggota kudu diberikan pekerjaan yang sepadan bersama dengan kesanggupannya. Pekerjaan yang terutama di dalam penduduk adalah pekerjaan sebagai kepala masyarakat, supaya seorang kepala penduduk kudu bertubuh sehat dan kuat, pintar, cinta terhadap pengetahuan pengetahuan dan keadilan gara-gara kepala lah yang menjadi sumber keharmonisan masyarakat. Sebaik-baik kepala adalah Nabi/Rasul, gara-gara seorang Nabi/Rasul pasti mengadakan peraturan-peraturan yang baik dan berfaedah bagi penduduk supaya penduduk menjadi makmur dan baik. Tugas kepala Negara tidak cuma menyesuaikan Negara, namun juga edukatif manusia mempunyai akhlak yang baik.

Selain al-Madinah al-Fadilah juga ada al-Madinah al-Jahilah, yaitu penduduk yang anggota-anggotanya mempunyai tujuan cuma melacak kesenangan jasmani. Kemudian ada al-Madinah al-Fasiqah yaitu penduduk yang anggota-anggotanya mempunyai pengetahuan yang mirip bersama dengan anggota al-Madinah al-Fadilah dapat namun perbuatan mereka mirip bersama dengan anggota al-Madinah al-Jahilah.

Jiwa yang kekal adalah jiwa fadilah (mungkin tinggal di madinah al-Fadilah) yaitu jiwa-jiwa yang berbuat baik, jiwa-jiwa yang sanggup melepas diri berasal dari ikatan jamsmani, oleh gara-gara itu tidak hancur bersama dengan hancurnya badan. Adapun jiwa Jahilah adalah jiwa yang tidak mencapai kesempurnaan, (mungkin yang hidup di madinah al-Jahilah), jiwa yang belum sanggup meepaskan diri berasal dari ikatan materi dan dapat hancur bersama dengan hancurnya badan. Jiwa Fasiqah adalah jiwa yang mengetahui terhadap kesenangan namun menolaknya (mungkin yang hidup di dalam Madinah al-Fasiqah), tidak dapat hancur dan dapat kekal, dapat namun kekal di dalam kesengsaraan. Adapun surga dan Negara menurut Al-Farabi adalah soal spiritual.

Sejarah Pemikiran Islam Al-Farabi (Filsafat & Teorinya)