Pengertian Khalwat Serta Bahayanya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah keliru seorang berasal dari kalian berkhalwat bersama seorang wanita sebab sebenarnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430)


ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat bersama seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, sebab syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad berasal dari hadits Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil jilid 6 no. 1813)

لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم فقام رجل فقال يا رسول الله امرأتي خرجت حاجة واكتتبت في غزوة كذا وكذا قال ارجع فحج مع امرأتك

“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat bersama seorang wanita kacuali kecuali bersama bersama mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku terlihat untuk berhaji, dan aku sudah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu.'” (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975)

Faedah:

Kalau ada yang berkata, “Namun bagaimana bersama {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} shohabiaat yang berhijrah berasal dari Mekah ke Madinah tanpa mahrom?”

Tidaklah boleh bagi seorang wanita untuk bersafar tanpa mahrom kecuali tatkala hijrah berasal dari Mekah ke Madinah sebab keburukan dan bahaya yang ada di kota Mekah waktu itu yang menyebabkannya lari lebih bahaya dan lebih buruk berasal dari perkara yang ditakutkannya menimpa dirinya (jika ia bersafar tanpa mahrom). Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah bin Abi Ma’ith dan para wanita yang lain sudah berhijrah berasal dari Mekah ke Madinah tanpa mahrom. Demikian terhitung kehadiran seorang wanita dalam majelis persidangan di hadapan hakim tanpa mahrom, hal ini adalah darurat sebab dikawatirkan hilangnya hak penuntut. Demikian terhitung tatkala seorang wanita yang belum nikah jalankan perzinahan maka ia disingkan tanpa mahromnya sebab hal ini adalah hukuman hadd baginya. (Syarhul ‘Umdah 2/177-178).

Apa maksud perkataan Nabi “syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua”?

Al-Munawi berkata, “Yaitu syaitan menjadi penengah (orang ketiga) diantara keduanya bersama membisikan mereka (untuk jalankan kemaksiatan) dan menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak dan menghalau rasa malu dan sungkan berasal dari keduanya dan juga menghiasi kemaksiatan sampai terlihat indah dihadapan mereka berdua, sampai pada akhirnya syaitanpun mengumpulkan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih gampang berasal dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan berasal dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinahan.” (Faidhul Qodir 3/78).

As-Syaukani berkata, “Sebabnya adalah Laki-laki senang kepada wanita sebab demikanlah ia sudah diciptakan punya kecondongan kepada wanita, demikian terhitung sebab karakter yang sudah dimilikinya berbentuk syahwat untuk menikah. Demikian terhitung wanita senang kepada Laki-laki sebab sifat-sifat alami dan naluri yang sudah tertancap dalam dirinya. Oleh sebab itu syaitan menemukan fasilitas untuk mengobarkan syahwat yang satu kepada yang lainnya maka terjadilah kemaksiatan.” (Nailul Autor 9/231).

Imam An-Nawawi berkata, “…Diharamkannya berkhalwat bersama seorang wanita ajnabiah dan dibolehkannya berkholwatnya (seorang wanita) bersama mahamnya, dan dua perkara ini merupakan ijma’ (para ulama).” (Al-Minhaj 14/153).

Apakah yang Dimaksud bersama Mahrom??

Berkata As-Suyuthi, “Para sahabat kita (para pengikut madzhab Syafi’i) mengatakan, Mahrom adalah wanita yang diharamkan untuk dinikahi untuk selama-lamanya baik sebab nasab maupun sebab sebab spesifik yang dibolehkan dan sebab kemahroman wanita tersebut.” Definisi ini terhitung dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 9/413, dan ini merupakan definisi Imam An-Nawawi, (Al-Minhaj 14/153) dimana beliau berkata: المحرم هو كل من حرم عليه نكاحها على التأبيد لسبب مباح لحرمتها

Dari definisi ini maka diketahui bahwa:

  1. (wanita yang diharamkan untuk dinikahi), maka bukanlah mahrom anak-anak paman dan anak-anak bibi (baik paman dan bibi selanjutnya saudara sekandung ayah maupun saudara sekandung ibu).
  2. (untuk selama-lamanya), maka bukanlah mahrom saudara wanita istri dan terhitung bibi (tante) istri (baik tante selanjutnya saudara kandung ibu si istri maupun saudara kandung ayah si istri) sebab keduanya sanggup dinikahi kecuali sang istri dicerai, demikian terhitung bukanlah terhitung mahrom wanita yang sudah ditalak tiga, sebab ia sanggup dinikahi lagi kecuali sudah dinikahi oleh orang lain sesudah itu dicerai. Demikian terhitung bukanlah terhitung mahrom wanita selain ahlul kitab (baik yang beragama majusi, budha, hindu, maupun kepercayaan yang lainnya) sebab ia sanggup dinikahi kecuali masuk dalam agama Islam.
  3. (dikarenakan sebab spesifik yang dibolehkan), maka bukanlah mahrom ibu yang dijima’i oleh ayah bersama jima’ yang syubhat (tidak bersama pernikahan yang sah) dan terhitung anak wanita berasal dari ibu tersebut. Ibu selanjutnya tidak boleh untuk dinikahi tetapi ia bukanlah mahrom sebab jima’ syubhat tidak dikatakan boleh dilakukan.
  4. (dikarenakan kemahroman wanita tersebut), maka bukan terhitung mahrom wanita yang dipisah berasal dari suaminya sebab mula’anah (Mawahibul Jalil 4/116), sebab wanita selanjutnya diharamkan untuk dinikahi lagi oleh suaminya yang sudah melaknatnya selama-lamanya tetapi bukan sebab kemahroman wanita selanjutnya tetapi sebab sikap ketegasan dan penekanan pada sang suami. (Al-Asybah wan Nadzoir 1/261).

Dan kecuali sudah memahami bahwa sang wanita adalah mahromnya maka tidak boleh baginya untuk menikahinya dan boleh baginya untuk memandangnya dan berkhalwat dengannya dan bersafar menemaninya, dan hukum ini perlu termasuk mahrom yang disebabkan sebab nasab atau sebab persusuan atau sebab pernikahan. (Al-Asybah wan Nadzoir 1/262).

Peringatan:

Berkata Imam An-Nawawi, “Yang dimaksud mahrom berasal dari sang wanita ajnabiah yang kecuali ia berada bersama sang wanita maka boleh bagi seorang pria untuk duduk (berkhalwat) bersama wanita ajnabiah tersebut, disyaratkan mesti merupakan seseorang yang sang pria ajnabi sungkan (malu/tidak sedap hati) dengannya. Adapun kecuali mahrom selanjutnya masih kecil andaikan umurnya dua atau tiga th. atau yang semisalnya maka wujudnya seperti tidak terdapatnya tanpa ada khilaf.” (Al-Majmu’ 4/242).

Apakah yang Dimaksud bersama Khalwat?

Anas bin Malik berkata,

جاءت امرأة من الأنصار إلى النبي صلى الله عليه وسلم فخلا بها فقال والله إنكم لأحب الناس إلي

“Datang seorang wanita berasal dari kaum Ansor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkhalwat dengannya, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Demi Allah kalian (kaum Anshor) adalah orang-orang yang paling aku cintai.'” (HR. Al-Bukhari no. 5234, Kitabun Nikah)

Imam Al-Bukhori memberi judul hadits ini bersama perkataannya,باب ما يجوز أن يخلو الرجل بالمرأة عند الناس “Bab: Dibolehkannya seorang laki-laki berkhalwat bersama seorang wanita kecuali di hadapan khalayak.”

Ibnu Hajar berkata, “Imam Al-Bukhori menyimpulkan hukum (dalam judul selanjutnya bersama perkataannya) “di hadapan khalayak” berasal dari perkataan Anas bin Malik berasal dari riwayat yang lain (*) “Maka Nabi pun berkhalwat dengannya di {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} jalan atau {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} السكك (sukak).” Dan السكك, adalah jalan digunakan untuk berlangsung yang biasanya senantiasa di lewati manusia.”

(*) Diantaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim (4/1812):

عن أنس أن امرأة كان في عقلها شيء فقالت يا رسول الله إن لي إليك حاجة فقال يا أم فلان انظري أي السكك شئت حتى أقضي لك حاجتك فخلا معها في بعض الطرق حتى فرغت من حاجتها

“Dari Anas bin Malik bahwasanya seorang wanita yang peikirannya agak terganggu berbicara kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, aku punya ada mesti denganmu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepadanya, ‘Wahai Ummu fulan, lihatlah kepada jalan mana saja yang engkau sudi sampai aku penuhi keperluanmu.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkhalwat bersama wanita selanjutnya di sebuah jalan sampai wanita selanjutnya selesai berasal dari keperluannya.”

Ibnu Hajar berkata, “Yaitu ia tidak berkhalwat bersama wanita selanjutnya sampai keduanya tertutup berasal dari pandangan khalayak (tersembunyi dan tidak kelihatan-pen), tetapi maksudnya dibolehkan khalwat kecuali (mereka berdua tampak oleh khalayak) tetapi suara mereka berdua tidak terdengar oleh khalayak sebab ia berbicara dengannya perlahan-lahan, contohnya sebab suatu perkara yang wanita selanjutnya malu kecuali ia menyebutkan perkara selanjutnya di hadapan khalayak.”

Ibnu Hajar menyebutkan bahwasanya ada khalwat yang diharamkan dan ada khalwat yang diperbolehkan:

  1. Khalwat yang diperbolehkan adalah sebagaimana yang dilaksanakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama wanita tersebut, yaitu memojok bersama suara yang tidak di dengar oleh khalayak tetapi tidak tertutup berasal dari pandangan mereka. Hal ini terhitung sebagaimana penjelasan Al-Muhallab, “Anas tidak memaksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat bersama wanita selanjutnya sampai tidak tampak oleh orang-orang kira-kira Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala itu, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat bersama wanita selanjutnya sampai orang-orang di sekitarnya tidak mendengar keluhan sang wanita dan percakapan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut. Oleh sebab itu Anas mendengar akhir berasal dari percakapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita selanjutnya lantas iapun menukilnya (meriwayatkannya) dan ia tidak meriwayatkan percakapan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita itu sebab ia tidak mendengarnya.” (Fathul Bari 9/413. Adapun perkataan Imam Nawawi bahwa “kemungkinan wanita selanjutnya adalah mahrom Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti Ummu Sulaim dan saudara wanitanya.” (Al-Minhaj 16/68), maka kuranglah tepat sebab sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim bahwa wanita selanjutnya pikirannya agak terganggu, dan ini bukanlah merupakan karakter Ummu Sulaim).
  2. Khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendiriannya) antara Laki-laki dan wanita agar tertutup berasal dari pandangan manusia. Berkata Al-Qodhi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniah berkenaan karakter penegak amar ma’ruf nahi mungkar, “Jika ia menyaksikan seorang pria yang berdiri bersama seorang wanita di jalan yang di lewati (orang-orang) dan tidak terlihat berasal dari keduanya gejala yang menyangsikan maka janganlah ia menghardik mereka berdua dan janganlah ia mengingkari. Namun kecuali mereka berdua berdiri di jalan yang sepi maka sepinya area menyangsikan maka ia boleh mengingkari pria selanjutnya dan hendaknya ia jangan langsung memberi hukuman pada keduanya risau ternyata sang pria adalah mahrom sang wanita. Hendaknya ia berbicara kepada sang pria -jika ternyata ia adalah mahrom sang wanita- jagalah wanita ini berasal dari tempat-tempat yang mencurigakan. -Dan kecuali ternyata wanita selanjutnya adalah wanita ajnabiah– hendaknya ia berbicara kepada sang pria, ‘Aku ingatkan kepadamu berasal dari bahaya berkhalwat bersama wanita ajnabiah yang sanggup menjerumuskan.’

Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata:

والخلوة المحرمة هي ما كانت مع إغلاق لدار أو حجرة أو سيارة ونحو ذلك أو مع استتار عن الأعين، فهذه خلوة محرمة وكذا ضبطها الفقهاء

“Dan khalwat yang diharamkan adalah kecuali disertai bersama menutup (mengunci) tempat tinggal atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup berasal dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikian para pakar fikh mendefinisikannya.”

Jadi khalwat yang diharamkan ada dua wujud sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh. Dan bukanlah merupkan kelaziman bahwa ruangan yang tertutup melazimkan terhitung tertutupnya berasal dari pandangan khalayak.

Jika ada yang mengatakan, “Berdasarkan definisi khalwat yang diharamkan di atas maka berdua-duaannya seorang wanita dan pria di emperan jalan-jalan raya bukanlah khalwat yang diharamkan sebab semua orang menyaksikan mereka??”

Memang benar hal itu bukanlah merupakan khalwat yang diharamkan, tetapi ingat diantara hikmah diharamkan khalwat adalah sebab khalwat merupakan keliru satu fasilitas yang mengantarakan kepada perbuatan zina, sebagaimana mengumbar pandangan merupakan awal cara yang pada akhirnya mengantarkan pada perbuatan zina. Oleh sebab itu wujud khalwat yang dilaksanakan oleh biasanya pemuda meskipun kecuali ditinjau berasal dari hakikat khalwat itu sendiri bukanlah khalwat yang diharamkan, tetapi kecuali ditinjau berasal dari fitnah yang timbul akibat khalwat selanjutnya maka hukumnya adalah haram. Para pemuda-pemudi yang berdua-duaan selanjutnya sudah jatuh dalam hal-hal yang haram lainnya seperti saling menyaksikan antara satu bersama yang lainnya, sang wanita mendayu-dayukan suaranya bersama menggoda, belum lagi baju sang wanita yang tidak sesuai bersama syari’at, dan lain sebagaianya yang jauh lebih parah. Khalwat yang asalnya dibolehkan ini tetapi kecuali tercampur bersama hal-hal yang haram ini maka hukumnya menjadi haram. Khalwat yang tidak aman berasal dari munculnya fitnah maka hukumnya haram.

Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini (yaitu hadits Anas di atas) menunjukan akan bolehnya berbincang-bincang bersama seorang wanita ajnabiah (bukan mahrom) bersama percakapan rahasia (diam-diam), dan hal ini bukanlah celaan pada kehormatan agama pelakunya kecuali ia aman berasal dari fitnah. Namun perkaranya sebagaimana perkataan Aisyah وأيكم يملك إربه كما كان النبي يملك إربه “Dan siapakah berasal dari kalian yang sanggup menahan gejolak nafsunya sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sanggup menahan syahwatnya.” (Fathul Bari 9/414).

Sa’id bin Al-Musayyib berkata,

لقد بلغت ثمانين سنة وأنا أخوف ما أخاف على النساء

“Aku sudah meraih usia delapan puluh th. dan yang paling aku takutkan adalah para wanita.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Musonnaf-nya 7/17, ia berkata, “Telah mengemukakan kepada kita Aswad bin ‘Amir, (ia berkata), ‘Telah mengemukakan kepada kita Hammad bin Salamah, berasal dari Ali bin Zaid berasal dari Sa’id bin Al-Musayyib…’”).

Dalam riwayat yang lain berasal dari Ali bin Zaid bin Jad’an bahwasanya Sa’id berkata, “Tidaklah syaitan berputus asa berasal dari (menggoda) sesuatu kecuali ia mencari jalan terlihat bersama mempergunakan para wanita (sebagai senjatanya untuk menggoda)”, Ali bin Zaid bin Jad’an berkata, “Kemudian Sa’id berbicara (padahal waktu itu ia sudah berumur 84 th. dan matanya yang satu tidak sanggup digunakan untuk menyaksikan lagi, dan mata yang satunya lagi rabun): ‘Tidak ada sesuatu yang lebih aku takutkan daripada para wanita.’” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 4/373 no. 5452 bersama sanadnya sampai Ali bin Al-Madini berasal dari Sufyan berasal dari Ali bin Zaid bin Jad’an).

Rasulullah bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya pada kaum pria daripada finah para wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 5096 [Kitabun Nikah] dan Mulim no. 97,98 [Kitab Adz-Dzikir])

Abdurrouf Al-Munawi mengomentari hadits ini, “Hal ini sebab seorang wanita tidaklah menyuruh suaminya kecuali kepada perkara-perkara yang buruk, dan tidak memotivasinya kecuali untuk jalankan keburukan, dan bahaya wanita yang paling minimal adalah ia menjadikan suaminya cinta kepada dunia sampai pada akhirnya binasa dalam dunianya, dan kerusakan apa yang lebih kritis berasal dari hal ini, belum lagi wanita adalah sebab munculnya mabuk asmara dan fitnah-fitnah yang lainnya yang susah untuk dihitung.”

Ibnu Abbas berkata,

لم يكفر من كفر ممن مضى إلا من قبل النساء وكفر من بقي من قبل النساء

“Tidaklah kafir orang-orang terdahulu kecuali sebab para wanita dan demikian terhitung bersama orang-orang yang di era mendatang.”

Para raja mengirimkan hadiah-hadiah kepada para pakar fikih maka mereka pun terima hadiah tersebut, adapun Fudhail ia menolak hadiah tersebut. Istrinya pun berbicara kepadanya, “Engkau menolak sepuluh ribu (dinar atau dirham) padahal kita tidak punya makanan untuk dimakan pada hari ini?”, Fudhail pun menimpali, “Permisalan antara aku dan engkau (wahai istriku) sebagaimana suatu kaum yang punya seekor sapi yang mereka membajak bersama memakai sapi tersebut, tatkala sapi selanjutnya sudah tua maka mereka pun menyembelihnya. Demikianlah aku, engkau mendambakan menyembelihku sesudah aku meraih usia senja, lebih baik engkau mati dalam situasi lapar sebelum saat engkau menyembelih Fudhail.” (Al-Faidul Qodir 5/436).

Dari Imron bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyib berkata,

ما خفت على نفسي شيئا مخافة النساء

“Tidaklah aku kuatir pada sesuatu menimpa diriku sebagaimana ketakutanku kepada (fitnah) para wanita.”

Para sahabat beliau berkata,

يا أبا محمد إن مثلك لا يريد النساء ولا تريده النساء قال هو ما أقول لكم

“Wahai Abu Muhammad, orang yang sepertimu tidak meminta para wanita dan para wanita pun tidak menghendakinya!”

Sa’id berkata, “Kenyataannya sebagaimana yang sudah aku katakan kepada kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Tobaqoot Al-Kubro (5/136) ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kita ‘Amr bin ‘Ashim, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kita Salam bin Miskin, ia berkata, “Telah mengemukakan kepada kita ‘Imron bin ‘Abdillah,” ‘Ato’ berkata,

لو ائتمنت على بيت مال لكنت أمينا ولا آمن نفسي على أمة شوهاء

“Jika aku diberi kepercayaan untuk melindungi baitul mal (tempat penyimpanan harta kaum muslimin) maka aku akan menjalankan amanah tersebut, tetapi aku tidak sanggup menanggung diriku berasal dari seorang budak wanita yang cantik.”

Imam Ad-Dzahabi mengomentari perkataan ‘Ato ini,

صدق رحمه الله ففي الحديث ألا لايخلون رجل بامرأة فإن ثالثهما الشيطان

“Sungguh benar perkataan ‘Ato’ -semoga Allah merahmati beliau- sebagaimana sudah disebutkan dalam hadits, ‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat bersama seorang wanita sebab syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.’” (Siyar A’lam An-Nubala 5/87-88).

Maka sungguh benarlah perkataan Ahmad bin ‘Ashim Al-Anthoki (beliau meninggal th. 239 H),

من كان بالله أعرف كان منه أخوف

“Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka ia akan lebih kuatir kepada Allah.” (Al-Bidayah wan Nihayah 10/318, Bugyatut Tolab fi Tarikh Al-Halab 2/750).

Lihatlah para salaf seperti Sa’id bin Al-Musayyib yang tidaklah pernah dikumandangkan adzan sepanjang empat puluh th. kecuali Sa’id sudah berada di mesjid (Tahdzibut Tahdzib 4/87), demikian terhitung ‘Ato yang Ibnu Juraij berbicara tentangnya,

كان المسجد فراش عطاء عشرين سنة وكان من أحسن الناس صلاة

“Mesjid adalah area tidur ‘Ato’ sepanjang dua puluh tahun, dan beliau adalah orang yang paling baik sholatnya.” (Siyar A’lam An-Nubala 5/84, Tahdzibul Kamal 20/80, Tarikh Ibnu ‘Asakir 40/392, Hilyatul Auliya’ 3/310).

Dengan ibadah mereka yang luar biasa selanjutnya maka mereka lebih mengenal Rob mereka shingga mereka lebih kuatir kepada Allah, kuatir kecuali diri mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Tidak sebagaimana halnya {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} kaum muslimin yang mulai yakin diri untuk terselamatkan berasal dari fitnah, apalagi fitnah yang sangat berbahaya yaitu fitnah wanita???

Dan diharamkan berkhalwatnya seseorang bersama lawan jenisnya yang bukan merupakan mahromnya, dan hal ini umum termasuk semua bentuk, dan sama saja apakah disertai nafsu syahwat ataupun tidak, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berkhalwat secara perlu baik disertai syahwat maupun tidak.

Dikatakan kepada Abul Qosim An-Nasr Abadzi, “Sebagian orang duduk (bergaul) bersama para wanita dan mereka berkata, “Saya sanggup terjaga untuk tidak menyaksikan mereka.” Ia pun berkata, “Selama jasad masih utuh maka perintah dan larangan terhitung senantiasa berlaku dan penghalalan dan pengharaman terhitung senantiasa ditujukan bersama keduanya (yaitu perintah dan larangan) dan tidaklah memberanikan diri kepada syubhat-syubhat kecuali orang yang menjerumuskan dirinya untuk jatuh dalam hal-hal yang haram.” (Syaradzatuz Dzahab 3/58, Tobaqoot As-Sufiah 1/364).

Peringatan:

  1. Diharamkan berkhalwatnya seorang wanita bersama hewan yang sanggup tertarik dan bernafsu kepada seorang wanita seperti monyet, sebab dikawatirkan terjadinya fitnah (hal yang tidak diinginkan) sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Aqil dan Ibnul Jauzi, dan juga Syaikh Taqiyuddin. (Kasyful Qina’ 5/16).
  2. Orang yang banci bersama seorang wanita hukumnya ia seperti seorang pria (maka berlaku hukum-hukum khalwat), dan demikian terhitung kecuali bersama banyak wanita. Dan kecuali bersama seorang pria maka ia hukumnya seperti seorang wanita, demikian terhitung kecuali ia bersama banyak lelaki, dalam rangka untuk berhati-hati. (Al-Majmu’ 4/241).
  3. Berkhalwat bersama seorang amrod (anak muda yang belum tumbuh rambut wajahnya) yang berparas tampan hukumnya sebagaimana khalwat bersama seorang wanita, meskipun khalwat selanjutnya untuk kemaslahatan studi mengajar atau pendidikan. Imam Ahmad berbicara kepada seseorang yang berlangsung bersama seorang anak yang tampan yang merupakan keponakan orang tersebut; “Menurutku hendaknya engkau tidak berlangsung bersamanya di jalan.” Ibnul Jauzi berkatam “Para salaf berbicara berkenaan amrod: “وهو أشد فتنة من العذارى” “Fitnahnya lebih besar daripada fitnah wanita perawan.” (Kasyful Qona’ 5/16). Berkata Ibnu Katsir, “Banyak salaf yang menyebutkan bahwa mereka melarang seorang pria menajamkan pandanganya (menatapi bersama serius) kepada amrod.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat 24 ayat 30). Berkata Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyah), “Barangsiapa yang ulangi pendangannya kepada amrod dan konsisten memandangnya sesudah itu ia berbicara ‘Aku tidak memandangnya bersama syahwat,’ maka ia sudah berdusta.” (Matholib Ulin Nuha 5/19). Berkata Imam An-Nawawi, “Imam As-Syafi’i perlihatkan akan haramnya menyaksikan (wajah) amrod, dan kecuali menyaksikan saja haram maka berkhalwat bersama amrad lebih haram lagi sebab hal itu lebih buruk dan lebih dekat kepada mafsadah dan hal yang dikawatirkan (jika berkhalwat bersama seorang wanita) terhitung ada (jika berkhalwat bersama amrod.” (Al-Majmu’ 4/241).

Hukum Memandang Amrod (Mukhtasor Al-Fatawa Al-Mishriyah 1/29-30)

Berkata Ibnu Taimiyah, “Memandang amrod bersama syahwat hukumnya haram dan ini merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, demikian terhitung menyaksikan kepada para wanita yang merupakan mahrom (namun bersama syahwat) dan berjabat tangan bersama mereka dan juga berledzat-ledzat bersama mereka. Barangsiapa yang menyebutkan bahwa hal ini adalah ibadah maka ia sudah kafir, dan dia seperti orang yang menjadikan dukungan kepada orang yang mendambakan berbuat nista sebagai ibadah, apalagi menyaksikan kepada pepohonan, kuda, dan hewan-hewan kecuali bersama perasaan berpikiran indah dan baik dunia, kekuasaan dan kepemimpinan, seta harta benda, maka pandangan seperti ini tercela sebagaimana firman Allah:

ولا تمدن عينيك إلى ما متعنا به أزواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه ورزق ربك خير وأبقى

“Dan janganlah kamu tujukan ke dua matamu kepada apa yang sudah Kami memberikan kepada golongan-golongan berasal dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. 20:131)

Adapun kecuali pandangan selanjutnya bersama perasaan tanpa merendahkan agama, tetapi bersama pandangan selanjutnya timbul rileks jiwa seperti menyaksikan bunga-bunga maka ini terhitung kebatilan yang dimanfaatkan untuk kebenaran.

Terkadang seseorang menyaksikan kepada orang lain sebab keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh orang yang dipandang selanjutnya maka pandangan yang seperti ini patokannya adalah hati dan amal orang yang dipandang selanjutnya bukan sebab rupa orang itu.

Terkadang seseorang menyaksikan orang selanjutnya sebab keindahan rupa orang selanjutnya agar mengingatkan dia akan Dzat yang menciptakan rupa selanjutnya (yaitu Allah) maka pendangan seperti ini baik.

Terkadang seseorang menyaksikan orang lain hanya sebab keindahan rupanya. Maka masing-masing style menyaksikan di atas kapan saja disertai bersama nafsu maka hukumnya haram tanpa diragukan lagi, sama saja apakah syahwat yang mengakibatkan syahwat untuk berjima’ ataupun tidak. Dan tidak sama antara perasaan seseorang tatkala menyaksikan bunga-bunga bersama perasaannya tatkala menyaksikan wanita dan amrod, sebab perbedaan ini maka dibedakan terhitung dalam hukum syar’inya, maka jadilah menyaksikan kepada amrod ada tiga macam:

  1. Jika pandangan selanjutnya disertai bersama syahwat maka hukumnya adalah haram.
  2. Yang dibolehkan sebab tidak disertai bersama syahwat seperti seseorang yang wara’ yang menyaksikan kepada putranya yang tampan dan putrinya yang cantik. Pandangan yang seperti ini tidak disertai bersama syahwat kecuali dilaksanakan oleh orang yang paling fajir. Kapan saja pandangan ini disertai bersama syahwat maka hukumnya adalah haram. Oleh sebab itu barangsiapa yang hatinya tidak cenderung kepada amrod sebagaimana para sahabat, sebagaimana sebuah umat yang tidak pernah mengenal kemaksiatan yang nista ini. Seorang berasal dari mereka tidak membedakan antara pandangannya kepada muka amrod bersama pandangannya kepada putranya, putra tetangganya, anak kecil ajnabi. Sama sekali tidak terbetik dihatinya syahwat, sebab ia tidak miliki kebiasaan bersama hal itu, hatinya bersih. Budak-budak wanita di zaman para sahabat terlihat berlangsung di jalan-jalan dalam situasi terbuka wajah-wajah mereka dan mereka melayani (membantu) para Laki-laki dan hati-hati mereka dalam situasi bersih. Kalau di negeri ini dan waktu ini ada orang yang mendambakan melepas budak-budak wanitanya berasal dari Turki berlangsung di jalan-jalan maka akan timbul kerusakan. Demikian pula bersama amrod-amrod yang tampan, tidak dibenarkan untuk terlihat di tempat-tempat dan di waktu-waktu yang dikhawatirkan mereka akan terkena fitnah kecuali sebatas keperluan. Maka tidaklah mungkin pemuda amrod yang tampan berlangsung santai atau duduk di area pemandian umun diantara Laki-laki asing…
  3. Hanyalah timbul perbedaan pendapat diantara para ulama pada style yang ketiga yaitu menyaksikan kepada para amrod tanpa disertai syahwat, tetapi ada kekawatiran akan munculnya gejolak syahwat, maka ada dua pendapat pada madzhab Imam Ahmad. Dan yang paling benar berasal dari dua pendapat selanjutnya adalah pendapat yang terhitung merupakan pengakuan Imam As-Syafi’i dan yang lainnya yaitu tidak boleh. Pendapat yang ke dua boleh, sebab yang merupakan asal adalah tidak munculnya gejolak syahwat. Pendapat pertamalah yang lebih benar.

Barangsiapa yang berlama-lama menyaksikan amrod lantas menyebutkan bahwa ia tidak memandangnya bersama syahwat maka ia sudah berdusta, sebab kecuali sebenarnya tidak ada sesuatu (yaitu syahwat) yang mendorongnya untuk konsisten menyaksikan pastinya ia tidak akan memandang. Sesungguhnya ia tidak ulangi pandangannya kepada amrod kecuali sebab ada keledzatan yang terdapat dalam hatinya.”

Hukum berkhalwatnya seorang pria bersama {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} wanita tanpa mahrom

Para ulama berselisih pendapat berkenaan hukum berkhalwatnya seorang pria bersama wanita ajnabiah kecuali kuantitas wanita selanjutnya lebih berasal dari satu, demikian terhitung sebaliknya (berkhalwatnya seorang wanita bersama {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} Laki-laki ajnabi).

Berkata Imam An-Nawawi, “Tidak ada perbedaan berkenaan diharamkannya berkhalwat antara tatkala sholat maupun di luar sholat.” (Al-Majmu’ 4/242).

Imam An-Nawawi berkata, “Berkata para sahabat kita (yang bermadzhab Syafi’i), kecuali seorang pria mengimami seorang wanita yang merupakan mahromnya dan berkhalwat dengannya maka tidaklah mengapa dan sama sekali tidak makruh sebab boleh baginya untuk berkhalwat dengannya di luar shalat. Dan kecuali ia mengimami seorang wanita ajnabiah dan berkhalwat dengannya maka hukumnya adalah haram… dan kecuali ia mengimami banyak wanita yang ajnabiah bersama situasi berkhalwat bersama mereka maka ada dua pendapat. Jumhur ulama berpendapat akan bolehnya hal itu… sebab para wanita yang berkumpul biasanya tidak terlalu mungkin seorang laki-laki untuk berbuat sesuatu hal yang buruk pada keliru seorang berasal dari mereka dihadapan mereka. Imamul Haromain dan penulis buku Al-‘Uddah menukil bahwasanya Imam As-Syafii perlihatkan bahwa diharamkannya seorang pria mengimami {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} wanita kecuali diantara wanita selanjutnya ada mahrom pria selanjutnya atau istrinya. Dan Imam As-Syafii memastikan akan haramnya berkhalwatnya seorang pria bersama para wanita kecuali kecuali ada mahrom pria selanjutnya bersama mereka.” (Al-Majmu’ 4/241).

Renungkanlah betapa tegasnya Imam As-Syafii dalam pengharaman kholwat antara wanita dan pria, sampai-sampai beliau mengharamkan seorang laki-laki mengimami para wanita (dalam situasi berkhalwat bersama mereka) kecuali kecuali ada diantara wanita selanjutnya mahrom sang imam atau istri sang imam. Padahal ini dalam situasi beribadah yang sangat agung (yaitu sholat) yang pastinya orang yang sedang sholat jauh berasal dari pikiran-pikiran yang kotor, selain itu sang imam pun berada di depan dan para wanita berada dibelakangnya agar ia tidak menyaksikan mereka, tetapi demikian Imam Syafi’i senantiasa mengharamkan hal ini.

Berkata As-Sarkashi, “…Kemakruhan (atau keharoman) hal ini (menurut Imam As-Syafi’i-pen) tidak akan hilang sampai ada diantara para wanita selanjutnya mahrom mereka, sebagaimana dalam hadits Anas bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat mengimami mereka di tempat tinggal mereka, Anas pun berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan aku dan seorang anak yatim di belakangnya (pada shaf pertama) dan menjadikan ibuku dan Ummu Sulaim di belakang kami.” (HR. Al-Bukhari 1/149, Muslim 1/457)(*). Karena bersama terdapatnya mahrom hilanglah ketakutan akan munculnya fitnah, dan hal sama saja apakah mahrom selanjutnya adalah mahrom bagi semua wanita selanjutnya atau hanya merupakan mahrom bagi {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} mereka dan diperbolehkan sholat dalam semua situasi tersebut, sebab kebencian (terhadap khalwat tersebut) berada kecuali di luar sholat.” (Al-Mabshuth karya As-Sarkashi 1/166).

(*) Lengkap haditsnya (-ed):

عن أنس بن مالك أن جدته مليكة دعت رسول الله صلى الله عليه وسلم لطعام صنعته له فأكل منه ثم قال قوموا فلأصل لكم قال أنس فقمت إلى حصير لنا قد اسود من طول ما لبس فنضحته بماء فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم وصففت أنا واليتيم وراءه والعجوز من ورائنا فصلى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين ثم انصرف

“Dari Anas bin Malik ia berbicara bahwasanya neneknya (yang bernama) Mulaikah mengakibatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memakan makanan yang sudah dibuatnya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi pun memakannya sesudah itu ia shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Marilah sholat aku akan mengimami kalian.’ Anas berkata, ‘Maka akupun mengambil alih sebuah tikar punya kita yang sudah menghitam sebab sudah lama dipakai lantas akupun memercikkan air pada tidak tersebut.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri (untuk sholat) dan aku bersama seorang anak yatim berdiri satu shaf di belakang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang yang tua (yaitu nenek beliau) di belakang kami. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sholat dua rakaat sesudah itu beliau berpaling (selesai berasal dari sholat).”

Peringatan:

Berkata Imam An-Nawawi, “Dan sama hukumnya berkenaan diharamkannya berkhalwat antara orang yang buta bersama orang yang sanggup melihat.” (Al-Majmu’ 4/242).

  1. Beliau terhitung berkata, “Ketahuilah bahwasanya mahrom yang bersama keberadaannya bersama sang wanita membolehkan untuk duduk (berkhalwat) bersama sang wanita adalah sama saja baik mahrom selanjutnya adalah mahrom sang pria maupun mahrom sang wanita, atau yang semakna bersama mahrom seperti suami sang wanita atau istri sang pria, wallahu a’lam.” (Al-Majmu’ 4/242).
  2. Diharamkannya berkhalwatnya seorang wanita bersama seorang pria meskipun bersama alasan dalam rangka pengobatan kecuali bersama wanita selanjutnya mahrom, atau suaminya, atau wanita tsiqoh (yang sanggup dipercaya). Karena kenyataan yang banyak berlangsung sebenarnya benar kadangkala hanya terdapat dokter Laki-laki yang sanggup mengatasi penyakit seorang wanita bersama penanganan yang baik dan terjamin meskipun sebab darurat maka sang dokter mesti menyaksikan aurat wanita tersebut. Namun yang mesti diperhatikan tidak semua pengobatan keadaannya darurat yang mengharuskan tidak boleh sang wanita ditemani oleh mahromnya. Apalagi merupakan kenyataan yang menyedihkan banyak berasal dari para wanita yang kecuali mereka bersua bersama dokter pria maka seakan-akan dokter selanjutnya adalah mahromnya.

Hukum Berkhalwatnya Seorang Wanita bersama Beberapa Lelaki (lebih berasal dari satu orang)

عبد الله بن عمرو بن العاص حدثه أن نفرا من بني هاشم دخلوا على أسماء بنت عميس فدخل أبو بكر الصديق وهي تحته يومئذ فرآهم فكره ذلك فذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم وقال لم أر إلا خيرا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد برأها من ذلك ثم قام رسول الله صلى الله عليه وسلم على المنبر فقال لا يدخلن رجل بعد يومي هذا على مُغِيْبَةٍ إلا ومعه رجل أو اثنان

“Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bahwasanya {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} orang berasal dari bani Hasyim masuk (menemui) Asma’ binti ‘Umais, lantas Abu Bakar masuk -dan tatkala itu Asma’ sudah menjadi istri Abu Bakar As-Siddiq- lantas Abu Bakar menyaksikan mereka dan ia membenci hal itu, lantas iapun mengemukakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia berkata, ‘Aku tidak menyaksikan sesuatu kecuali kebaikan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Sesungguhnya Allah sudah perlihatkan kesuciannya berasal dari perkara selanjutnya (perkara yang jelek),’ sesudah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar dan berkata, ‘Setelah hari ini tidaklah boleh seorang laki-laki menemui mughibah (yaitu seorang wanita yang suaminya sedang tidak berada di rumah) kecuali bersamanya seorang laki-laki (yang lain) atau dua orang.’” (HR. Muslim 4/1711, Shahih Ibnu Hibban 12/398).

Yang dimaksud bersama mughibah adalah wanita yang suaminya sedang tidak berada di rumah, baik sebab sedang bersafar terlihat kota maupun terlihat berasal dari tempat tinggal tetapi masih dalam kota, dalilnya adalah hadits ini. Dikatakan bahwa Abu Bakar sedang tidak berada di rumah, bukan sedang terlihat kota. (Al-Minhaj 4/155).

Berkata Imam An-Nawawi, “Dzohir berasal dari hadits ini menunjukan akan bolehnya berkhalwatnya dua atau tiga orang Laki-laki bersama seorang wanita ajnabiah, dan yang masyhur menurut para sahabat kita (yaitu penganut madzhab syafi’iah) akan haramnya hal ini. Oleh sebab itu hadits ini (bolehnya berkhalwat) dibawakan kepada kepada sekelompok orang yang kemungkinannya jauh untuk munculnya kesepakatan diantara mereka untuk jalankan perbuatan nista sebab kesholehan mereka, atau muru’ah mereka dan yang lainnya.” (Al-Minhaj 4/155).

Adapun para ulama yang menyebutkan akan bolehnya berkhalwatnya seorang wanita bersama {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} Laki-laki mereka menyaratkan bahwa para Laki-laki selanjutnya merupakan orang-orang yang terpercaya dan tidak bersepakat untuk jalankan hal yang nista pada wanita tersebut.

Berkata Imam An-Nawawi, “Adapun berkholwatnya dua orang Laki-laki atau lebih bersama seorang wanita maka yang masyhur adalah haramnya hal ini sebab sanggup menjadi mereka para Laki-laki selanjutnya bersepakat untuk jalankan hal yang keji (zina) pada wanita itu. Dan dikatakan bahwa kecuali mereka adalah terhitung orang-orang yang jauh berasal dari perbuatan seperti itu maka tidak mengapa.” (Al-Majmu’ 4/241).

Peringatan:

Diantara perkara yang diakui remeh oleh masyarakat tetapi sangat berbahaya adalah berkhalwatnya kerabat suami (yang bukan mahrom istri) bersama istrinya.

عن عقبة بن عامر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إياكم والدخول على النساء فقال رجل من الأنصار يا رسول الله أفرأيت الحمو قال الحمو الموت

“Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Waspadailah diri kalian berasal dari masuk (menemui) para wanita!’, lantas berkatalah seseorang berasal dari kaum Anshor, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu bersama Al-Hamwu?’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Al-Hamwu adalah maut (kematian).’” (HR. Al-Bukhari no. 5232)

Berkata Ibnu Hajar, “Larangan masuk (terhadap kerabat suami) untuk menemui para wanita menunjukan bahwa larangan untuk berkhalwat lebih utama untuk dilarang (min bab aula).” (Fathul Bari 9/411).

Imam Nawawi berkata, “Para ulama bhs sudah setuju bahwa الأحماء Al-Ahmaa’ adalah karib kerabat suami seperti ayah, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, sepupu, dan yang semisalnya, dan الأختان Al-Akhtan adalah karib kerabat berasal dari istri, dan الأصهار Al-Ashhar termasuk keduanya (Al-Ahmam dan Al-Akhtaan)…dan yang dimaksud bersama Al-Ahmam disini adalah kerabat karib suami selain ayahnya dan anak-anaknya(*), sebab mereka adalah mahrom bagi sang istri dan boleh bagi mereka untuk berkhalwat dengannya dan mereka tidak disifati bersama maut, tetapi yang ditujukan di sini adalah saudara laki-laki sang suami, paman, sepupu, dan yang semisalnya yang bukan merupakan mahrom bagi sang wanita dan formalitas masyarakat mereka menggampangkan hal ini (kurang peduli) dan melepas seseorang berkhalwat bersama istiri saudaranya. Inilah maut, dan kerabat seperti ini lebih utama untuk dilarang daripada laki-laki asing (yang tidak ada pertalian kerabat).” (Al-Minhaj 14/154).

(*) Adapun Al-Maziri, maka beliau perlihatkan bahwa arti Al-Hamwu adalah ayah suami, dan pendapat inipun diikuti oleh Ibnul Atsir dalam An-Nihayah, tetapi dzahirnya Ibnul Atsir terhitung tidak halangi arti Al-Hamwu pada ayah sang suami tetapi ia sebenarnya Al-Hamwu itu adalah umum termasuk semua kerabat suami tanpa mengecualikan ayah dan anak-anak suami. Beliau berkata, Al-Hamwu, “Kerabat-kerabat suami.” (An-Nihayah 1/440) Berkata Imam An-Nawawi, “Ini adalah pendapat yang rusak dan tertolak.” (Al-Minhaj 14/154). Ibnu Hajar menyebutkan bahwa penafsiran dan penjelasan para imam menunjukan bahwa pendapat ini bukanlah pendapat yang rusak. (Fathul Bari 9/412).

Al-Maziri berarti bahwa disebutkannya ayah suami untuk dilarang masuk menemui mughibah sebagai peringatan bahwa pelarangan pada selain ayah suami terlebih lagi. (Al-Fath 9412).

Ibnul Atsir berkata, “Jika menurut sang suami bahwa bapaknya adalah maut (jika masuk ke dalam rumahnya dan ia dalam situasi tidak di rumah) -padahal ia adalah mahrom istrinya- bagaimana kecuali yang masuk adalah orang asing??!, maksudnya yaitu ‘Lebih baik ia (sang istri) mati saja dan janganlah ia (sang istri) melakukannya (membiarkan ada yang masuk rumahnya tanpa kehadiran sang suami)’…, ia berkata, ‘Maknanya adalah berkhalwatnya Al-Hamwu bersama sang istri lebih berbahya daripada berkhalwat bersama orang asing, sebab kadangkala kecuali Al-Hamwu selanjutnya berbuat baik pada sang istri atau memintanya untuk jalankan perkara-perkara yang menurut suami adalah hal yang berat seperti mencari sesuatu yang di luar kebolehan sang suami maka jadilah rusaklah pertalian antara suam istri sebab hal itu. Dan sebab seorang suami tidak senang kecuali Al-Hamwu memahami urusan dalam keluarganya kecuali ia masuk dalam rumahnya.” (An-Nihayah 1/440).

Ibnu Hajar mengomentari perkataan Ibnul Atsir ini, “Seakan-akan perkataannya Al-Hamwu maut yaitu mesti berlangsung dan tidak mungkin menahan sang istri berasal dari masuknya Al-Hamwu, sebagaimana kematian itu tidak sanggup dihindari. Dan pendapat yang terakhir ini dipilih oleh Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyah) dalam Syarhul ‘Umdah.” (Al-Fath 9/413).

Makna Perkataan Al-Hamwu adalah Maut (kematian)

Imam An-Nawawi berkata, “Maknanya bahwa ketakutan pada Al-Hamwu lebih daripada pada yang lainnya, dan kerusakan lebih mungkin berlangsung dan fitnah lebih besar sebab memungkinkannya untuk sampai kepada sang wanita bersama tanpa diingkari. Berbeda bersama seseorang yang asing (yang tidak punya pertalian kerabat bersama suami).”

Ibnul ‘Arabi berkata, “Ini adalah ungkapan yang dikatakan oleh orang-orang Arab, sebagaimana dikatakan “Singa adalah maut (kematian)”, yaitu bersua dengannya seperti kematian”. Berkata Al-Qodhi, “Maknanya bahwa berkhalwat bersama Al-Ahma’ menjerumuskan kepada fitnah dan kebinasaan dalam agama, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun menjadikan perkara ini seperti kebinasaan, maka ungkapan seperti ini untuk penegasan bersama keras.” (Perkataan ke dua ulama ini dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj 14/154).

Al-Qurthubi berkata, “…(masuknya Al-Hamwu) menjerumuskan sang wanita pada kematiannya bersama diceraikan oleh suaminya tatkala cemburu atau ia dirajam kecuali berzina bersama al-hamwu tersebut.” (Umdatul Qori 20/214).

Imam An-Nawawi berkata, “Dan dikecualikan berasal dari pengharaman (semua wujud berkhalwat) ini adalah kondisi-kondisi yang darurat seperti kecuali seorang pria mendapati seorang wanita ajnabiah yang tersesat di sedang daratan dan yang semisalnya, maka boleh baginya untuk menemani wanita selanjutnya apalagi hal itu mesti atasnya kecuali sang pria mengkuatirkan keamanan dan situasi sang wanita kecuali ia membiarkannya sendirian. Dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama. Dalil yang menunjukan akan hal ini adalah kisah Al-Ifk.” (Majmu’ 4/242).

Pengertian Khalwat Serta Bahayanya.