5 Penjelasan Dibalik Alasan Seorang Muslim Dilarang Mengucapkan Selamat Natal


Mungkin tidak usang lagi, dapat terdengar, dapat terpampang goresan pena yang dibaca “Merry Christmas”, atau yang bermakna Selamat Hari Natal. Dan biasanya, momen ini disandingkan bersama dengan ucapan Selamat Tahun Baru.

Sebagian orang menganggap ucapan semacam itu tidaklah bermasalah, apalagi yang yang beropini demikianlah ialah mereka orang-orang kafir. Namun perihal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim mengucapakan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang kafir.

Dan ada juga berasal dari satu} di pada kaum muslimin, beropini nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan toleransi di dalam beragama!? Toleransi beragama bukanlah serupa kesabaran yang tidak ada batasnya. Namun toleransi beragama dijunjung tinggi oleh syari’at, asal di dalamnya tidak terdapat penyelisihan syari’at. Bentuk toleransi bisa juga bentuknya ialah melewatkan saja mereka berhari raya tanpa turut serta di dalam program mereka, juga tidak perlu ada ucapan selamat.

Islam mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji. Tidak cuma perlakuan baik terhadap sesama muslim, tetapi juga kepada orang kafir. Bahkan seorang muslim direkomendasikan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tak ada melarang kau untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tak ada memerangimu alasannya agama dan tidak (pula) mengusir kau dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)

Namun perihal ini dimanfaatkan oleh berasal dari satu} orang untuk menggeneralisir perilaku baik yang perlu dijalankan oleh seorang muslim kepada orang-orang kafir. Sebagian orang menganggap bahwa mengucapkan ucapan selamat hari natal ialah suatu bentuk kelakuan baik kepada orang-orang nashrani. Namun patut dibedakan pada berbuat baik (ihsan) kepada orang kafir bersama dengan bersikap loyal (wala) kepada orang kafir.

Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal

1- Bukanlah perayaan kaum muslimin

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin cuma ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba ke Madinah, masyarakat Madinah membawa dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di era jahiliyah. Maka dia berkata : Aku tiba kepada kalian dan kalian membawa dua hari raya di era Jahiliyah yang kalian mengisi bersama dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya bersama dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih).

Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah panduan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.

2- Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal

Ketika ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, terhadap hakekatnya kami menawarkan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada kawan baik yang telah lulus dari kuliahnya ketika di wisuda.

Nah,begitu juga bersama dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat oke dapat kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal ialah hari kelahiran dewa mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa ialah dewa mereka. Bukankah perihal ini ialah kekufuran yang amat terang dan nyata?

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).

3- Merupakan perilaku loyal (wala) yang keliru

Loyal (wala) tidaklah serupa bersama dengan berbuat baik (ihsan). Wala membawa arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kami cintai, agar andaikan kami wala terhadap seseorang, dapat tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh alasannya itu, para kekasih Allah juga disebut bersama dengan wali-wali Allah.

Ketika kami mengucapkan selamat natal, perihal itu bisa menumbuhkan rasa cinta kami perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin berasal dari satu} kami mengingkari, yang diucapkan cuma semata-mata di mulut saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan oarang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu terhadap Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kau dari daripada apa yang kau sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah faktual pada kami dan kau permusuhan dan kebencian bikin selama-lamanya hingga kau beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4)

4- Nabi melarang mendahului ucapan salam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara di dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal juga di di dalam larangan hadits ini.

5- Menyerupai orang kafir

Tidak samar lagi, bahwa berasal dari satu} kaum muslimin turut berpartisipasi di dalam perayaan natal. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan sentra perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang memakai pakaian bersama dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum muslimin untuk serupa kaum kafir.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang serupa suatu kaum, maka dia juga bab dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Pembicaraan Kelahiran Isa di dalam Al Qur’an

Bacalah kutipan ayat di bawah ini. Allah Ta’ala berfirman,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

“Maka Maryam mengandungnya, lantas ia mengasingkan diri bersama dengan kandungannya itu ke kawasan yang jauh. Maka rasa sakit dapat melahirkan anak memaksa ia (bersandar) terhadap pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya saya mati sebelum ini, dan saya menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari kawasan yang rendah: “Janganlah kau bersedih hati, bergotong-royong Tuhanmu telah membawa dampak anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, pasti pohon itu dapat menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 22-25)

Kutipan ayat di atas membuktikan bahwa Maryam memiliki kandungan Nabi ‘Isa ‘alahis salam terhadap ketika kurma sedang berbuah. Dan ekspresi dominan ketika kurma berbuah ialah ekspresi dominan panas. Makara selama ini natal yang diidetikkan bersama dengan ekspresi dominan masbodoh (winter), ialah suatu perihal yang keliru.

Penutup

Ketahuilah wahai kaum muslimin, persoalan yang remeh bisa menjadi persoalan yang besar kecuali kami tidak mengetahuinya. Mengucapkan selamat terhadap suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat lagi tahun), bagaimana lagi mengucapkan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih-lebih lagi terlarangnya.

Meskipun ucapan selamat semata-mata sebuah ucapan yang ringan, tetapi menjadi masalah yang berat di dalam perihal aqidah. Terlebih lagi, kecuali ada di pada kaum muslimin yang menolong perayaan natal. Misalnya bersama dengan menolong mengembangkan ucapan selamat hari natal, boleh menjadi berwujud spanduk, baliho, atau yang lebih kritis lagi menggunakan pakaian khas program natal (santa klaus, pent.)

Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kau di dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan bahu-membahu di dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).

5 Penjelasan Dibalik Alasan Seorang Muslim Dilarang Mengucapkan Selamat Natal