Uwais Al-Qarni

Uwais Al-Qarni


Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Padahal cacat, ia yakni pemuda yang soleh dan benar-benar berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya yakni seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais selalu merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Cuma satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tidak lama lagi akan bersama dengan kau, ikhtiarkan supaya Ibu bisa melakukan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh via padang pasir tandus yang panas. Orang-orang umumnya menerapkan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais benar-benar miskin dan tidak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar si kecil lembu, Kaprah-kira untuk apa si kecil lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, terbukti Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong si kecil lembu itu naik turun bukit. “Uwais edan.. Uwais edan…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tidak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari si kecil lembu itu makin besar, dan makin besar kekuatan yang diperlukan Uwais. Namun sebab latihan setiap hari, si kecil lembu yang membesar itu tidak terasa lagi.

Sesudah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais sudah mencapai 100 kg, seperti itu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Dia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah kini orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Dia rela mencapai perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi harapan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata sudah memperhatikan Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan si kecil itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa saya ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang lapang dada dan penuh cinta. Allah SWT malahan memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Cuma tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah pedoman untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah sebab Rasullah SAW berpesan “Di zaman kau nanti akan lahir seorang manusia yang doanya benar-benar makbul. Kamu berdua pergilah cari ia. Dia akan datang dari arah Yaman, ia dibesarkan di Yaman. Dia akan timbul di zaman kau, carilah ia. Sekiranya bertemu dengan ia meminta bantu ia berdua untuk kau berdua.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kau, durhaka pada ibu dan menolak keharusan, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh si kecil hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Dia tinggal dinegeri Yaman. Uwais yakni seorang yang terkenal fakir, hidupnya benar-benar miskin. Uwais Al-Qarni yakni seorang si kecil yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Dia hidup bersama ibunya yang sudah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya sudah buta. Selain ibunya, Uwais tidak lagi memiliki sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni berprofesi mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Sekiranya ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti ia dan ibunya. Demikianlah profesi Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang si kecil yang taat terhadap ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Sekiranya malam tiba, ia selalu berdoa, memohon pedoman terhadap Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap memperhatikan tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka sudah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah bertemu dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapatkan cedera dan giginya patah sebab dilempari batu oleh musuh-musuhnya, sudah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu sampai patah. Hal ini dikerjakannya sebagai ungkapan rasa cintanya terhadap Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia bisa bertemu Nabi Muhammad saw dan memperhatikan wajah beliau dari dekat? Dia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan sebab iman.

Namun bukankah ia memiliki seorang ibu yang sudah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam situasi yang demikian? Hatinya selalu resah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memperhatikan wajah nabi Muhammad saw.

Kesudahannya, kerinduan terhadap Nabi saw yang selama ini dipendamnya tidak bisa ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin terhadap ibunya supaya ia dibolehkan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni padahal sudah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Dia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah aduhai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila sudah bertemu dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Alangkah gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tidak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan terhadap tetangganya supaya bisa memandu ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Sesudah mencapai perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Sesudah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil menyatakan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun terbukti Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya bisa bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Alangkah kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk bertemu seketika dengan Nabi saw, tapi Nabi saw tidak bisa dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Namun kapankah Nabi pulang? Padahal masih terngiang di alat pendengarannya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, supaya ia pesat pulang ke Yaman, “engkau wajib lekas pulang”.

Kesudahannya, sebab ketaatannya terhadap ibunya, pesan ibunya menumbangkan suara hati dan keinginannya untuk menunggu dan bertemu dengan Nabi saw. Sebab hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit terhadap Siti Aisyah ra untuk seketika pulang kembali ke Yaman, ia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Sesudah itu, Uwais Al-Qarni malahan seketika berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan benar-benar haru.

Peperangan sudah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Setibanya di rumah, Nabi saw menanyakan terhadap Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni si kecil yang taat terhadap ibunya, yakni penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Berdasarkan keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan seketika pulang kembali ke Yaman, sebab ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak bisa meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, terhadap para temannya., “Sekiranya kalian ingin bertemu dengan ia, perhatikanlah ia memiliki pedoman putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memperhatikan terhadap Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika bila kalian bertemu dengan ia, mintalah doa dan istighfarnya, ia yakni penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar malahan sudah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau seketika mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Semenjak ketika itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tidak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Kenapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan ia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu malahan tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, seketika khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, ia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra seketika pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Setibanya di kemah daerah Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Namun terbukti Uwais sedang sholat. Sesudah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan seketika membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran pedoman putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah pedoman putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bersinar. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa ia itu yakni penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka ngakak dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Namun siapakah namamu yang sesungguhnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam diskusi mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni sudah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru bisa turut bersama rombongan kafilah dagang ketika itu. Kesudahannya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon supaya Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais ogah dan ia berkata terhadap Khalifah, “saya lah yang wajib meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Sebab yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Sebab desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Sesudah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal terhadap Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari berikutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Beberapa Uwais Al-Qarni Wafat

Saat tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada ketika ia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke daerah pembaringan untuk dikafani, di sana malahan sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Semenjak pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana terbukti sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya sampai selesai. Beberapa usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni sudah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang benar-benar mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni yakni seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Semenjak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diwariskan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang sudah siap mengerjakannya lebih-lebih dulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sesungguhnya engkau aduhai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tidak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Namun, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka yakni para malaikat yang diwariskan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya sudah tersebar ke mana-mana. Baru ketika itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sesungguhnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengenal siapa sesungguhnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri terhadap Khalifah Umar ra dan Ali ra, supaya merahasiakan tentang ia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang sudah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni yakni penghuni langit.
Baca selengkapnya »
Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a

Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a


Rasulullah SAW bersabda: "Fatimah adalah sebagian daripadaku. Barangsiapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah." (Hadis Riwayat Bukhari)

Lahirnya Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a adalah rahmat yang telah dilimpahkan Ilahi kepada Nabi Muhammad SAW. Ia sudah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia bagaikan benih yang akan menumbuhkan pohon besar penyambung keturunan Rasulullah SAW. Ia adalah satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a dilahirkan di Makkah, pada hari Jum’at, 20 Jamadil Akhir, kurang lebih sekitar lima tahun sebelum Rasulullah SAW di angkat menjadi Rasul.

Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a besar di bawah aqidah wahyu Ilahi, di tengah ranah peperangan yang sengit antara Islam dan jahiliyah, di saat itu sedang hebat-hebatnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Ketika ia masih kanak-kanak, Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a sudah merasakan penderitaan, kehausan dan kelaparan. Dia telah berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun, dia bersama ayah dan ibu nya hidup menderita, di asingkan ke daerah akibat pemboikotan orang-orang kafir Quraisy terhadap keluarga Bani Hasyim.

Penderitaan itu berakhir 3 tahun setelah pemboikotan, namun datang pula ujian yang berat atas diri Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a, dengan wafatnya sang ibu tercinta, Sayyidatina Khadijah r.a. Perasaan duka selalu menyelimuti kehidupnya sehari-hari, setelah putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang dari sang ibu.

Rasulullah SAW sangat menyayangi puterinya ini. Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a adalah puteri bungsu yang paling disayang dan dikasihani oleh junjungan kita Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW merasa tidak ada satu orang pun di dunia ini, yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling dekat di sisinya selain puteri bungsunya itu.

Demikian besar rasa cinta Rasulullah SAW kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan Hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut Hadist tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Ali r.a demikian :

“Wahai Ali, sesungguhnya Fatimah adalah bahagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barangsiapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku, dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku …”

Penyataan beliau itu bukan sebatas cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya, bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan pribadi yang ditinggalkan di tengah umatnya.

Ketika masih kanak-kanak, Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a melihat sendiri ujian-ujian yang dialami oleh ayah ibunya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy.

Sayyidatina Fatimah hidup di utara Makkah yang penuh dengan debu perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwah, keluarga yang menjadi pusat iman, hidayah dan keutamaan. Dia menyaksikan keteguhan dan ketegasan orang-orang mukmin dalam perjuangan dengan gagah berani menghadapi komplotan Quraisy. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a. dan menjadikan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan rohaniah baginya untuk menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.

Setelah ibunya wafat, Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a hidup bersama ayahnya. Satu-satunya orang yang paling dicintai. Dialah yang meringankan penderitaan Rasulullah SAW ketika ditinggal wafat isteri beliau, Sayyidatina Khadijah r.a..

Pada suatu hari Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a melihat ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan oleh orang-orang Quraisy, di saat ayahnya sedang sujud.

Dengan hati remuk-redam laksana disayat belati, Sayyidatina Fatimah r.a bergegas membersihkan kepala dan tubuh ayahnya. Kemudian diambilah air untuk mencucinya. Dia menangis tersedu melaksanankan kekejaman orang-orang Quraisy terhadap ayahnya.

Kesedihan hati puterinya saat itu dirasakan betul oleh Nabi Muhammad SAW.

Untuk menguatkan hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad SAW sambil membelai-belai kepala puteri bungsunya itu, berkata :

“Jangan menangis … Allah melindungi ayahmu dan akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya.”

Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasulullah SAW menanamkan semangat juang yang tinggi ke dalam jiwa Sayyidatina Fatimah r.a dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta kepercayaan bahwa Islam akan menang. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir Quraisy itu sentiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi Muhammad SAW tetap akan melaksanakan tugas risalahnya.

Di hari lain, Sayyidatina Fatimah r.a melihat ayahnya pulang dengan tubuh penuh kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke punggung Rasulullah SAW itu adalah Uqbah bin Mu’aith, Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf. Melihat ayahnya berlumuran najis, Sayyidatina Fatimah r.a pun berbegas membersihkannya dengan air sambil menangis.

Nabi Muhammad SAW menganggap perbuatan ketiga kafir Quraisy itu sudah keterlaluan. Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa ke pada Allah SWT :

“Ya Allah, celakakanlah orang-orang Quraisy itu ... Ya Allah, binasakanlah Uqbah bin Mu’aith … Ya Allah, binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf ...”

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa diperoleh Sayyidatina Fatimah r.a. dari penderitaan ayahnya dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semua itu menjadi bekal hidup baginya untuk menghadapi masa depan yang cukup berat dan penuh ujian. Kehidupan yang serba berat dan keras di kemudian hari memang memerlukan kekuatan jiwa dan mental.

Tepat pada saat orang-orang Quraisy selesai mempersiapkan komplotan untuk membunuh Rasulullah SAW, Madinah sudah siap menerima kedatangan beliau.

Nabi Muhammad SAW meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau bersama Abu Bakar As Siddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak saudara. Beliau berhijrah seperti yang pernah juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Musa a.s.

Orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW di antaranya termasuk puteri kesayangan beliau, Sayyidatina Fatimah r.a dan putera bapak saudara beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Sayyidina Ali r.a yang selama ini menjadi pembantu yang paling dipercayai oleh beliau.

Sayyidina Ali r.a sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khas, yaitu berbaring di tempat tidur beliau untuk mengalihkan mata orang-orang Quraisy yang rencananya hendak membunuh beliau.

Sebelum Sayyidina Ali r.a melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad SAW agar barang-barang amanah yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga, Rasulullah SAW segera menyusul berhijrah.

Sayyidina Ali r.a membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasulullah SAW terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Sayyidina Ali r.a.

Di dalam rombongan Sayyidina Ali r.a ini terdapat Sayyidatina Fatimah r.a, Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Sayyidina Ali r.a), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Sayyidina Ali r.a berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang ditunggang oleh kaum wanita, agar jangan dikejar oleh orang-orang Quraisy.

Mengetahui hal itu, Sayyidina Ali r.a segera memperingatkan Abu Waqid, untuk berjalan perlahan-lahan, kerana semua penumpangnya adalah wanita. Rombongan berjalan melalui padang pasir di bawah sengatan terik matahari.

Rombongan Sayyidina Ali r.a berhenti di Dhajnan untuk beristirahat semalam. Saat waktu yang bersamaan Ummu Aiman (ibu Aiman) tiba. Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Sayyidina Ali r.a. Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Waktu itu masing-masing sungguh sangat rindu ingin segera bertemu dengan Rasulullah SAW.

Waktu itu Rasulullah SAW bersama Abu Bakar As Siddiq telah tiba di dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menanti kedatangan rombongan Sayyidina Ali r.a. Rasulullah SAW memberitahu Abu Bakar As Siddiq bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera saudara bapaknya dan puterinya datang.

Dalam perjalanan itu, Sayyidina Ali r.a tidak berkenderaan sama sekali. Mereka berjalan kaki menempuh jarak 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak. Dan pada akhirnya tibalah mereka semua (anggota rombongan) dengan selamat di Quba.

Betapa gembiranya Rasulullah SAW menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.

Dan ketika Nabi Muhammad SAW melihat Sayyidina Ali r.a tidak dapat berjalan kaki karena kakinya membengkak, beliau segera merangkul dan memeluknya sambil menangis karena sangat terharu. Beliau kemudian meludah di atas tapak tangan lalu diusapkan pada kaki Sayyidina Ali r.a. Dikatakan sejak itu sehingga wafatnya, Sayyidina Ali r.a tidak pernah mengeluh karena kakinya sakit.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu sangat memberi kesan dalam hati Rasulullah SAW dan tidak dilupakan selama-lamanya..

Ijab Kabul Pernikahan

Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a mencapai masa keremajaan dan kecantikannya ketika Islam dibawa Nabi Muhammad SAW sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a benar-benar tumbuh menjadi anak gadis remaja.

Keanggunan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pemuda terhormat yang menaruh harapan ingin meminang puteri Rasulullah SAW itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahawa beliau sedang menanti datangnya petunjuk dari Allah SWT perihal puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar As Siddiq r.a, Umar Ibnul Khattab r.a dan Saad bin Muaz bersama-sama Rasulullah SAW duduk di dalam masjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasulullah SAW. Ketika itu beliau bertanya kepada Abu Bakar As Siddiq r.a : “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib … ?”

Abu Bakar As Siddiq r.a menyatakan kesediaannya. Ia berangkat untuk menghubungi Sayyidina Ali r.a. Sewaktu Sayyidina Ali r.a melihat datangnya Abu Bakar As Siddiq r.a dengan tergopoh-gopoh, ia menyambutnya dengan terperanjat kemudian bertanya : “Anda datang membawa berita apa … ?”

Setelah duduk istirahat sejenak, Abu Bakar As Siddiq r.a segera memperjelaskan persoalannya : “Wahai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai lebih keutamaan dibandingkan dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasulullah. SAW. Beberapa orang Sahabat terkemuka telah menyampaikan maksud lamaran kepada beliau untuk dapat mempersuntingkan puteri beliau. Semua lamaran itu beliau tolak. Beliau menyatakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah SWT. Akan tetapi, wahai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri ...? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu.”

Mendengar perkataan Abu Bakar r.a itu, mata Sayyidina Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Sayyidina Ali r.a. berkata : “Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa.”

Abu Bakar r.a terharu seketika itu saat mendengar jawaban Sayyidina Ali yang sangat menyentuh perasaan. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Sayyidina Ali r.a, Abu Bakar berkata : “Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka …!”

Setelah berlangsung dialog seterusnya, Abu Bakar r.a berhasil mendorong keberanian Sayyidina Ali r.a. untuk melamar puteri Rasulullah SAW.

Beberapa waktu kemudian, Sayyidina Ali r.a datang menghadap Rasulullah SAW yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salamah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW : “Siapakah yang mengetuk pintu …?”

Rasulullah menjawab : “Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya …!”

Jawaban Nabi Muhammad SAW itu belum dapat memuaskan hati Ummu Salamah r.a. ia bertanya lagi : “Ya, tetapi siapakah dia itu …?”

“Dia saudaraku, orang kesayanganku …”, jawab Nabi Muhammad SAW.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahawa Ummu Salamah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Sayyidina Ali r.a kepada Nabi Muhammad SAW itu : “Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terhantuk-hantuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempatku semula. Dia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah SAW. Ia dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud tetapi malu hendak mengutarakannya”.

Rasulullah mendahului berkata : “Wahai Ali, nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku …”

Mendengar kata-kata Rasulullah SAW itu, lahir-lah keberanian Ali bin Abi Thalib untuk mengutarakan maksud kedatangannya : “Maafkanlah aku, ya Rasulullah. Engkau tentu ingat bahwa engkau telah mengambil aku dari bapak saudara engkau, Abu Thalib dan ibu saudara engkau, Fatimah binti Asad, ketika aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa. Sesungguhnya Allah telah memberi hidayah kepadaku melalui engkau juga. Dan engkau, ya Rasulullah, adalah tempat aku bernaung dan engkau jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan Akhirat. Setelah Allah membesarkan aku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga, hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri engkau, Fatimah. Ya Rasulullah, apakah engkau berkenan menyetujui untuk menikahkan diriku dengannya … ?”

Ummu Salamah meneruskan kisahnya : “Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Talib, “Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin …?”

“Demi Allah … ”, jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang : “Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta”.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para Sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya : “Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau dengan Fatimah atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”

“Ya, Rasulullah, itu kuterima dengan baik“, jawab Ali bin Abi Tali r.a dalam pernikahan itu.

Demikianlah kisah pernikahan antara dua orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW yakni puterinya, Sayyidatina Fatimah r.a. dan Sahabat yang juga merupakan sepupu beliau yakni, Sayyidina Ali r.a.. Rasulullah SAW mendoakan keberkahan atas pernikahan itu.

Sejarah menyaksikan bahawa Fatimah puteri Rasulullah adalah seorang wanita mulia yang telah menempuh berbagai ujian dan memerlukan pengorbanan yang cukup besar dalam hidupnya. Walaupun beliau adalah puteri Rasulullah, namun hidupnya bukan diselimuti kemewahan dan kesenangan, melainkan kemiskinan dan kesusahan.

Setelah menikah dengan Sayidina Ali, kehidupannya pun bisa di katakan tetap susah. Walaupun Rasulullah pemilik seluruh kekayaan di muka bumi, tapi beliau tidak pernah mendidik anaknya dengan kemewahan.

Sewaktu menjadi isteri Sayyidina Ali, Sayyidatina Fatimah mengurus sendiri keperluan rumah tangganya. Sayyidina Ali sering tiada di rumah, karena keluar berjuang bersama Rasulullah SAW. Setiap hari, Sayyidatina Fatimah mengangkut air dari sebuah perigi yang jauhnya dua batu dari rumahnya. Beliau menggiling tepung untuk keperluan makanan keluarganya. Dalam serba susah dan miskin, beliau tetap ingin bersedekah walaupun hanya dengan sebelah biji kurma. Sayyidatina Fatimah tidak pernah mengeluh atau menyalahkan suaminya terhadap kesusahan yang terpaksa dihadapinya. Bahkan dikatakan bahwa seluruh kesusahan wanita di dunia ini telah ditanggung oleh beliau sehingga beliau tidak perlu dipologamikan. Wanita mulia ini sangat pemalu dan sangat menjaga martabat dirinya.

Sewaktu Rasulullah SAW hampir wafat, dia menemani ayah kesayangannya itu.

Ketika itu Rasulullah SAW berbisik ke telinga kanannya. Rasulullah memberitahu Sayyidatina Fatimah bahwa Ia telah sampai pada masanya untuk beliau mengadap Allah. Sayyidatina Fatimah begitu sedih karena akan berpisah dengan ayah yang sangat dikasihinya.

Kemudian beliau berbisik ke telinga kirinya pula. Sayyidatina Fatimah tersenyum lega. Rupa-rupanya, Rasulullah SAW menyatakan bahwa Sayyidatina Fatimah adalah orang pertama yang akan menyusul beliau.

Sayyidatina Fatimah meninggal di usia 28 tahun, setelah kurang lebih lima bulanwafatnya Rasulullah SAW.

Disaat Ali bin Abi Thalib r.a memasukan jenazah istrinya (Sayyidatina Fatimah Az Zahra r.a.) yang Putri Rasulullah SAW, beliau menangis.

Putranya, Al Hasan bertanya kepada beliau : "Wahai Ayahku, apa gerangan yang membuat dirimu menangis … ?"

Sayyidina Ali bin Abi Thaliib r.a. menjawab : "Wahai Hasan putraku, aku teringat pesan kakekmu Rasulullah SAW, Beliau berkata, "Wahai Ali, kelak jika putriku Fatimah telah tiada, aku yang pertama kali akan menerima jasadnya di liang lahat, dan Demi Allah wahai Hasan, aku melihat tangan Rasulullah SAW menerima jasad ibumu Fatimah, aku melihat kakekmu Rasulullah SAW menciumi wajah ibumu Fatimah..

"Wahai Rasulullah, kini aku kembalikan amanah yang telah engkau berikan kepadaku, aku kembalikan belahan jiwamu, yang dimana setiap engkau rindu akan Surga, engkau cium wajah suci beliau"
Baca selengkapnya »

Jasa Pelet