Sejarah Pemikiran Islam Al-Farabi (Filsafat & Teorinya)

Sejarah Pemikiran Islam Al-Farabi (Filsafat & Teorinya)


Filsafat Yunani banyak memberikan ide kepada umat Islam untuk mempelajari dan menggali lebih jauh berkenaan asumsi dan juga pengetahuan pengetahuannya. Terlebih lagi, terhadap perkembangannya, Islam memiliki banyak persoalan-persoalan yang butuh asumsi untuk sanggup menyelesaikannya. Hal ini pasti butuh peran akal yang optimal supaya muncullah filsafat Islam. Filsafat Islam sendiri banyak melahirkan para filsuf muslim, salah satunya adalah Al-Farabi.

Ia banyak menguasai berbagai disiplin pengetahuan pengetahuan dan menguasai lebih {dari satu} bahasa. Ia pilih hidup sederhana, dan dikenal sebagai khusus yang zuhud dan juga senang berbagi bersama dengan sesama. Al-Farabi banyak melahirkan karya-karya, lebih-lebih untuk sanggup memperluas pemikirannya dilaksanakan penerjemahan terhadap kitab-kitabnya ke di dalam bhs Latin, Inggris, Almania, bhs Arab, dan Perancis.

Biografi Al-Farabi


Al-Farabi merupakan julukan bagi Abu Nasr Ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh. Al-Farabi dilahirkan di sebuah desa bernama Wasij yang merupakan distrik berasal dari kota Farab. Saat ini kota Farab dikenal bersama dengan nama kota Atrar/Transoxiana th. 257 H/870 M. Al-Farabi oleh orang-orang latin abad sedang dijuluki bersama dengan Abu Nashr (Abunaser), sedang julukan Al-Farabi diambil alih berasal dari nama kota Farab, area ia dilahirkan. Ayahnya adalah seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki.

Al-Farabi


Sejak dini, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang senang studi dan juga rajin dan juga ia memiliki kekuatan untuk menguasai berbagai bahasa, antara lain bhs Iran, Turkestan, dan Kurdistan. Bahkan menurut Munawir Sjadzali, Al-Farabi sanggup bicara di dalam tujuh puluh macam bahasa; namun yang ia kuasai bersama dengan aktif, cuma empat bahasa: Arab, Persia, Turki, dan Kurdi.

Di usia muda, Al-Farabi hijrah ke Baghdad yang terhadap waktu itu merupakan pusat pengetahuan pengetahuan. Di Baghdad ia studi kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah bhs Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus (seorang kristen) untuk studi logika dan filsafat Selanjutnya ia hijrah ke Harran yang merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil dan studi kepada Yuhanna ibnu Jailan. Kemudian, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat.

Al-Farabi mendapat predikat Guru Kedua, gara-gara ialah orang pertama yang memasukkan pengetahuan logika ke di dalam kebudayaan Arab. Selanjutnya ia ganti ke Damaskus, di sana ia berkenalan bersama dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Alleppo. Akhirnya Al-Farabi diberi kedudukan menjadi ulama istana. Ia hidup simple dan mengguinakan gajinya untuk beramal dan dibagikan kepada fakir miskin di Alleppo dan Damaskus. Al-Farabi wafat terhadap usia 80 th. di Aleppo th. 950 M.

Karya-karya Al-Farabi


Al-Farabi merupakan filsuf Islam terbesar, ia memiliki keahlian di berbagai bidang, di antaranya adalah pengetahuan bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, pengetahuan alam, ketuhanan, fiqh, dan manthiq. Tetapi, sayangnya tidak banyak karya berasal dari Al-Farabi yang diketahui, gara-gara karyanya berupa risalah yang merupakan karangan pendek dan tidak banyak yang berupa buku besar yang pembahasannya mendalam, biasanya karyanya udah hilang. Adapun judul berasal dari karya-karyanya sebagai berikut:

  1. Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu;
  2. Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah;
  3. Syarah Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani;
  4. At-Ta’liqat;
  5. Risalah fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi al-Falsafah;
  6. Kitab Tahshil As-Sa’adah;
  7. Risalah fi Itsbat Al-Mufaraqah;
  8. ‘Uyun Al-Masa‘il;
  9. Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah;
  10. Ihsa Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradita;
  11. Maqalat fi Ma’ani Al-Aql;
  12. Fushul Al-Hukm;
  13. Risalat Al-Aql;
  14. As-Siyasah Al-Madaniyah;
  15. Al-Masa’il Al-Falsafiyah wa Al-Ajwibah Anha.

Ciri khas berasal dari karya-karya Al-Farabi adalah berikan ulasan dan juga penjelasan terhadap karya berasal dari Aristoteles, Iskandar Al Fraudismy dan Plotinus. Karya nyata berasal dari Al-Farabi sebagai berikut:

  1. Al jami’u Baina Ra’yai Al Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan/penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles);
  2. Tahsilu as Sa’adah (mencari kebahagiaan);
  3. As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintah);
  4. Fususu Al Taram (hakikat kebenaran);
  5. Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (pemikiran-pemikiran utama pemerintah);
  6. As Syisyah (ilmu politik);
  7. Ihsho’u Al Ulum (kumpulan berbagai ilmu), dll.

Pemikiran Al-Farabi


Hasil Pemikiran Al-Farabi
Filsafat Al-Farabi memiliki corak dan tujuan yang tidak serupa berasal dari filsafat lainnya gara-gara ia mengambil alih ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali di dalam bentuk yang cocok bersama dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya bersama dengan sistematis dan selaras. Namun, lebih dari satu filsafat Al-Farabi ini dianggap salah supaya tidak diterima oleh pengetahuan pengetahuan modern. Akan tetapi, Al-Farabi selamanya memiliki guna yang penting dan pengaruh yang besar di bidang asumsi masa-masa sesudahnya. Berikut ini adalah lebih {dari satu} asumsi filsafat Al-Farabi:

Filsafat


Al-Farabi mengartikan filsafat sebagai Al Ilmu bilmaujudaat bima Hiya Al Maujudaat yang artinya adalah suatu pengetahuan yang menyelidiki hakikat memang berasal dari segala yang ada ini. Ia berhasil tempatkan dasar-dasar filsafat ke di dalam Islam. ia juga menyatakan bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Plato dan Aristoteles. Al-Farabi mempunyai basic berfilsafat bersama dengan memperdalam pengetahuan bersama dengan segala yang maujud hingga mempunyai pengenalan Allah sebagai penciptanya.

Falsafat Emanasi/Pancaran


Al-Farabi mencoba menyatakan bagaimana yang banyak sanggup timbul berasal dari Yang Satu bersama dengan filsafat emanasi ini. Tuhan berupa Maha-Satu, tidak berubah, jauh berasal dari materi, jauh berasal dari makna banyak, Maha-Sempurna dan tidak perlu terhadap apapun. Menurut al-Farabi, alam ini berjalan gara-gara emanasi Tuhan. Ia berpendapat bahwa berasal dari Yang Esa-lah memancar yang lain, berkat kebaikan dan pengetahuan sendiri-Nya. Tuhan sebagai akal, berfikir berkenaan diri-Nya, dan berasal dari asumsi ini, menjadi timbul bentuk yang lain. Tuhan merupakan bentuk pertama, dan bersama dengan asumsi itu timbul bentuk kedua yang juga mempunyai substansi. Ia disebut akal pertama yang tidak berupa materi. Wujud kedua ini berpikir berkenaan bentuk yang pertama dan berasal dari asumsi ini timbullah bentuk ketiga. Wujud ketiga membayangkan dirinya sendiri disebut akal kedua.

Wujud kedua atau akal pertama itu juga berpikir berkenaan dirinya dan berasal dari situ timbullah Langit Pertama.

Wujud III/akal kedua membayangkan Tuhan supaya timbul Wujud ke IV, dan membayangkan dirinya sendiri supaya timbul Bintang-bintang.

Wujud IV/akal Ketiga membayangkan Tuhan supaya timbul Wujud V, dan membayangkan diri sendiri supaya timbul Saturnus.

Wujud V/Akal Keempat membayangkan Tuhan supaya timbul Wjud VI, dan membayangkan dirinya supaya timbul Jupiter.

Wujud VI/Akal Kelima—— Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam.

——- dirinya= Mars.

Wujud VII/Akal Keenam—— Tuhan= Wujud VIII/Akal Ketujuh.

——- dirinya= Matahari.

Wujud VIII/Akal Ketujuh—— Tuhan= Wujud IX/Akal Kedelapan.

——- dirinya= Venus.

Wujud IX/Akal Kedelapan——Tuhan= Wujud X/Akal Kesembilan.

——- dirinya= Merkurius.

Wujud X/Akal Kesembilan—— Tuhan= Wujud XI/ Akal Kesepuluh.

——– dirinya= Bulan.

Pada asumsi Wujud XI/Akal Kesepuluh, berhentilah munculnya akal-akal. Tetapi berasal dari Akal Kesepuluh muncullah bumi dan juga roh-roh dan materi pertama yang menjadi basic berasal dari keempat unsur yaitu api, udara, air, dan tanah.

Wujud-wujud dan akal-akal ini merupakan susunan yang hierarkis. Wujud pertama di dalam hierarki yaitu yang paling tinggi, kemudian ruh-ruh lingkungan dan lingkungan itu sendiri. Susunan paling akhir yaitu bumi dan dunia materi yang berada terhadap urutan keempat. Menurut orang Yunani Kuno bahwa segala yang bercorak langit adalah suci dan segala yang bercorak bumi tidak suci. Ajaran Islam menerangkan bahwa langit merupakan sumber wahyu dan tujuan akhir mi’raj. Di sini Al-Farabi menyesuaikan antara ajaran agama dan filsafat. Dalam perihal ini al-Farabi mengambil alih teori astronomi berasal dari Yunani, yaitu Ptolomeus yang berpendapat bahwa kosmos terdiri berasal dari Sembilan lingkungan yang kesemuanya bergerak memutari bumi.

Falsafat Kenabian


Akal yang sepuluh itu sanggup disamakan bersama dengan para malaikat di dalam ajaran Islam. Para filosof sanggup mengetahui hakekat-hakekat gara-gara sanggup berkomunikasi bersama dengan akal Kesepuluh. Nabi atau Rasul pun sanggup menerima wahyu gara-gara mempunyai kesanggupan untuk berkomunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh. Akan namun kedudukan Nabi atau Rasul lebih tinggi berasal dari para filosof.

Para filosof sanggup berkomunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh gara-gara usahanya sendiri yaitu bersama dengan latihan dan kontemplasi, sedang Nabi atau Rasul adalah orang pilihan, supaya mereka sanggup berkomunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh bukan atas bisnis sendiri namun atas perlindungan berasal dari Tuhan. Para filosof mengadakan komunikasi bersama dengan Akal Kesepuluh lewat akal, yaitu akal mustafad, sedang Nabi atau Rasul bukan bersama dengan akal, namun bersama dengan energi pengetahuan yang disebut imajinasi. Tingkat imajinasi yang diberikan kepada Nabi atau Rasul terlampau kuat supaya sanggup terjalin bersama dengan Akal Kesepuluh tanpa latihan yang kudu dijalani para filosof. Falsafat ini dimajukan Al-Farabi untuk menentang aliran yang tidak percaya kepada Nabi/Rasul (wahyu) seperti yang dibawa oleh al-Razi dan lain-lain di zaman itu. Teori berkenaan kenabian ini sanggup dianggap sebagai bisnis al-Farabi di dalam merujukkan agama bersama dengan filsafat.

Teori Politik


Falsafat Kenabian terjalin erat bersama dengan teori politik Al-Farabi. Ia udah menulis lebih {dari satu} risalah berkenaan politik, yang paling terkenal adalah Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Kota Model). Di di dalam risalah selanjutnya ia melukiskan Kota sebagai suatu total berasal dari bagian-bagian yang terpadu, mirip bersama dengan organisme tubuh; jika ada anggota yang sakit, maka yang lain dapat bereaksi dan menjaganya.

Dalam kota, masing-masing anggota kudu diberikan pekerjaan yang sepadan bersama dengan kesanggupannya. Pekerjaan yang terutama di dalam penduduk adalah pekerjaan sebagai kepala masyarakat, supaya seorang kepala penduduk kudu bertubuh sehat dan kuat, pintar, cinta terhadap pengetahuan pengetahuan dan keadilan gara-gara kepala lah yang menjadi sumber keharmonisan masyarakat. Sebaik-baik kepala adalah Nabi/Rasul, gara-gara seorang Nabi/Rasul pasti mengadakan peraturan-peraturan yang baik dan berfaedah bagi penduduk supaya penduduk menjadi makmur dan baik. Tugas kepala Negara tidak cuma menyesuaikan Negara, namun juga edukatif manusia mempunyai akhlak yang baik.

Selain al-Madinah al-Fadilah juga ada al-Madinah al-Jahilah, yaitu penduduk yang anggota-anggotanya mempunyai tujuan cuma melacak kesenangan jasmani. Kemudian ada al-Madinah al-Fasiqah yaitu penduduk yang anggota-anggotanya mempunyai pengetahuan yang mirip bersama dengan anggota al-Madinah al-Fadilah dapat namun perbuatan mereka mirip bersama dengan anggota al-Madinah al-Jahilah.

Jiwa yang kekal adalah jiwa fadilah (mungkin tinggal di madinah al-Fadilah) yaitu jiwa-jiwa yang berbuat baik, jiwa-jiwa yang sanggup melepas diri berasal dari ikatan jamsmani, oleh gara-gara itu tidak hancur bersama dengan hancurnya badan. Adapun jiwa Jahilah adalah jiwa yang tidak mencapai kesempurnaan, (mungkin yang hidup di madinah al-Jahilah), jiwa yang belum sanggup meepaskan diri berasal dari ikatan materi dan dapat hancur bersama dengan hancurnya badan. Jiwa Fasiqah adalah jiwa yang mengetahui terhadap kesenangan namun menolaknya (mungkin yang hidup di dalam Madinah al-Fasiqah), tidak dapat hancur dan dapat kekal, dapat namun kekal di dalam kesengsaraan. Adapun surga dan Negara menurut Al-Farabi adalah soal spiritual.
Baca selengkapnya »
Peristiwa Runtuhnya Kerajaan Granada

Peristiwa Runtuhnya Kerajaan Granada


Pada tahun 711, umat Islam mulai memasuki semenanjung Iberia. Dengan misi mengakhiri kekuasaan tiran, Raja Roderick. Umat Islam di bawak kepemimpinan Thariq bin Ziyad menyeberangi lautan yang memisahkan Maroko dan daratan Spanyol. Tujuh tahun kemudian, sebagian besar wilayah semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal kini) sukses diduduki oleh umat Islam. Dan kekuasaan hal yang demikian berlanjut selama lebih dari 700 tahun.

Pada tahun 900-an M, Islam mencapai puncak kejayaannya di tanah Andalusia. Lebih dari 5 juta muslim tinggal di tempat hal yang demikian, dengan persentase mencapai 80% penduduk. Kerajaan yang kuat kala itu, Dinasti Umayah II menjadi penguasa tunggal di tempat hal yang demikian dan menjadi kerajaan yang paling maju dan palign stabil kondisi sosialnya di daratan Eropa. Tetapi, masa keemasan sosial dan politik ini tidaklah abadi. Pada tahun 1000-an M, kerjaan ini roboh dan terpecah-pecah menjadi sebagian negara kecil yang disebut tha-ifah.

Thaifah-thaifah muslim ini merupakan wilayah yang memiliki otonomi masing-masing sehingga amat rentan diserang oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang berada di wilayah Utara. Sepanjang dua ratus tahun berjalan, satu per satu thaifah sukses ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa (Reconquista). Dan akibatnya pada tahun 1240-an M, cuma tersisa satu kerajaan Islam saja di benua biru hal yang demikian, di ujung Selatan tanah Andalusia, itulah Kerajaan Granada.

Tulisan yang singkat ini akan memaparkan bagaimana kerajaan Islam terakhir di Eropa ini roboh.

Emirat Granada

Selama terjadinya reconquista, kerajaan Islam satu per satu jatuh ke wilayah kekuasaan kerajaan Kristen yang mengerjakan penyerangan dari Utara. Diawali dari tahun 1000-an hingga 1200-an, kota-kota utama seumpama Cordoba, Sevilla, Toledo bergiliran dikuasai. Gerakan al-Murabitun dan Muwahidun (yang kemudian menjadi sebuah daulah pen.) di Afrika Utara, ikut memiliki andil menolong Kristen Eropa, meski perpecahan umat Islam merupakan elemen utama yang menyebabkan keruntuhan Islam di Eropa.

Pada era hal yang demikian, tahun 1200-an, Granada sempat sukses menghindarkan diri dari penaklukkan kerajaan-kerajaan Eropa. Setelah jatuhnya Kota Cordoba, Granada menyepakati perjanjian dengan Kerajaan Castile, salah satu kerajaan Kristen yang terkuat di Eropa. Perjanjian hal yang demikian berisikan kesediaan dan ketundukan Granada dengan membayar upeti berupa emas terhadap Kerajaan Castile tiap tahunnya. Timbal baliknya, Castile menjamin independensi Granada dalam urusan dalam negeri mereka dan lepas dari ancaman invasi Castile.

Kecuali membayar upeti, elemen lain yang menolong Granada terhindar dari penklukkaan merupakan letak geografisnya. Kerajaan ini berlokasi di kaki pegunungan Sierra Nevada yang menjadi benteng natural melindungi kerajaan dari invasi pihak-pihak luar.

Peperangan Kerajaan Granada

Selama lebih dari 250 tahun, Granada konsisten patuh terhadap Castile dengan membayar upeti. Tetapi dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang tidak bersahabat konsisten saja membuat Granada dalam kondisi terancam. Mereka tidak pernah aman dari ancaman penaklukkan.

Suratan takdir seputar keruntuhan Granada bahkan diawali, dikala Raja Ferdinand dari Aragon menikah dengan Putri Isabella dari Castile. Pernikahan ini menyatukan dua kerajaan terkuat di semenanjung Iberia yang merajut cita-cita yang satu, mengalahkan Granada dan menghapus jejak-jejak Islam di benua biru.

Tahun 1482 pertempuran antara Kerajaan Kristen Spanyol dan emirat Granada bahkan diawali. Meski secara jumlah dan daya materi Granada keok jauh, namun semangat juang masyarakat muslim Granada sangatlah besar, mereka berperang dengan penuh keberanian. Sejarawan Spanyol mengatakan, “Orang-orang muslim mencurahkan segala jiwa raga mereka dalam peperangan, mereka layaknya seseorang pemberani dengan ambisi yang kuat mempertahankan diri mereka, istri, dan si kecil-si kecil mereka.” Saat juga masyarakat sipil Granada, mereka ikut serta dalam peperangan dengan gagah berani, mempertahankan tanah air mereka dan mempertahankan eksistensi Islam di tanah Eropa.

Kesudahannya itu, orang-orang Kristen bersatu padu, tidak lagi berpecah belah sebagaimana kondisi mereka di masa lalu. Beda halnya dengan Granada yang bahkan menghadapi pergolakan politik. Para pemimpin muslim dan para gubernur cenderung saling sikut, memiliki ambisi yang berbeda-beda, dan berupaya saling melengserkan satu sama lain. Di antara mereka ada yang berperan sebagai mata-mata Kristen dengan iming-iming imbalan kekayaan, tanah, dan kekuasaan. Lebih parah dari itu, pada tahun 1483, Sultan Muhammad, si kecil dari Sultan Granada, mengadakan pemberontakan terhadap ayahnya sehingga memicu terjadinya perang sipil.

Raja Ferdinand benar-benar memanfaatkan kondisi ini untuk membuat Granada kian lemah, ia menyokong pemberontakan Sultan Muhammad melawan ayah dan member keluarganya. Pasukan-pasukan Kristen dikerahkan oleh Ferdinand ikut berperang bersama Sultan Muhammad menghadapi member keluarganya. Tetapi Sultan Muhammad sukses mengalahkan member kerajaan dan merajai Granada. Tetapi kekuasaannya ini cuma terbatas di wilayah Kota Granada saja, sebab pasukan Kristen menekan dan mengambil wilayah-wilayah pedesaannya.

Akhir dari Granada

Kesudahannya lama setelah merajai Granada, Sultan Muhammad mendapat surat dari Raja Ferdinand untuk menyerahkan Granada ke wilayah kekuasaannya. Sang sultan bahkan kaget dengan permintaan Raja Ferdinand, sebab ia menyangka Raja Ferdinand akan memberikan wilayah Granada kepadanya dan mengizinkannya menjadi raja di wilayah hal yang demikian.

Tetapi Sultan Muhammad sadar bahwa ia cuma dimanfaatkan sebagai pion oleh Ferdinand untuk melemahkan dan mempermudah jalan pasukan Kristen mengalahkan Granada. Muhammad berupaya untuk menggalang daya dengan bersekutu bersama prajurit Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah untuk memerangi daya Kristen Eropa. Tetapi bantuan yang diinginkan Muhammad tidaklah sesuai dengan harapannya. Turki Utsmani cuma mengirimkan sekelompok kecil angkatan laut yang tidak berdampak banyak terhadap daya Kristen Eropa.

Pada tahun 1491, Granada dikepung oleh pasukan-pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dari menara istananya, Muhammad memandang pasukan Kristen dalam jumlah yang besar telah mengepung dan bersiap menyerang Granada. Muhammad bahkan dipaksa untuk menandatangani surat penyerahan Granada terhadap pasukan sekutu Kristen. Keadaan ini terjadi pada November 1491.

Pada tanggal 2 Januari 1492, pasukan Kristen memasuki Kota Granada. Pasukan-pasukan ini memasuki istana Alhambra, mereka memasang bendera-bendera dan simbol-simbol kerajaan Kristen Eropa di dinding-dinding istana sebagai pertanda kemenangan, dan di menara tertinggi istana Alhambra mereka pancangkan bendera salib supaya rakyat Granada mengenal siapa penguasa mereka kini. Setelah dikala itu benar-benar mencekam, rakyat muslim Granada tidak berani keluar dari rumah-rumah mereka dan jalur bahkan lowong dari hiruk pikuk manusia.

Setelah itu, Sultan Muhammad diasingkan. Sinar dikala perjalanan, di puncak gunung, ia menoleh terhadap bekas zonanya sambil menitikkan air mata. Ibunya yang memandang kondisi itu tidak simpatik terhadap putranya, bahkan ia memarahinya dengan mengatakan, “Jangan engkau menangis seperti perempuan, sebab engkau tidak mampu mempertahankan Granada layaknya seorang laki-laki”.

Orang-orang Kristen menjanjikan toleransi dan kedamaian terhadap masyarakat Islam Granada, meski kemudian perjanjian itu mereka batalkan sendiri. Ribuan umat Islam terbunuh dan yang lainnya mengungsi menyeberang lautan menuju wilayah Afrika Utara.

Itulah akhir dari peradaban Islam di Spanyol yang telah berlangsung lebih dari tujuh abad lamanya. Islam menghilang dari daratan hal yang demikian dengan terusir dan tewasnya umat Islam di sana, kemudian diganti dengan pendatang-pendatang Kristen yang menempati wilayah hal yang demikian.
Baca selengkapnya »

Jasa Pelet